Cerita Weaning With Love Kshatriyan

Yes.. I know it’s a little bit too late untuk menulis soal proses menyapih Kshatriyan. Namun saya merasa proses menyapih adalah topik yang cukup penting untuk dibicarakan jadi mari merapat ke sini bagi para momies yang sedang dalam proses menyapih si kecil. Bagi saya proses menyusui Kshatriyan, putera saya adalah masa yang sangat emosional dan penuh dengan ups and down. Bagi yang belum tahu bagaimana perjuangan saya menyusui Kshatriyan bisa melihat di link post ini. Intinya adalah saya pernah harus mengalami operasi abses yang sangat tidak menyenangkan. Namun saya bersyukur pengalaman tersebut tidak menghentikan niat saya untuk terus menyusui dia.

Kshatriyan full berhenti menyusui kira-kira beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-3. Saya sangat menikmati nenen time dimana hanya ada saya dan dia. Mungkin itu sebabnya saya belum bisa menyapihnya di usia 2 tahun. Bukan berarti saat ia menginjak usia 2 tahun saya tidak berupaya apa-apa untuk menyapihnya. Namun saya menyadari bahwa tekad saya belum kuat saat itu. Bisa dibilang saat itu saya masih sangat permisif dan mentoleransi dirinya. Belum lagi faktor papanya yang suka nggak tega melihat Kshatriyan nangis minta nenen.

Saat Kshatriyan sudah berusia 2 tahun, saya sudah mulai stop melakukan pumping. Saya yakin ketika proses pumping saya skip, pasti stok asi di PD juga menurun karena berkurangnya demand. Dengan cara itu saya mencoba mengajari Kshatriyan bahwa semakin Ia besar, semakin sedikit ASI dalam tubuh mama dan lama kelamaan bisa habis. Saya juga seringkali mengajari dia bahwa hanya adik bayi yang benar-benar membutuhkan ASI karena adik bayi belum bisa makan dan minum apa-apa kecuali nenen. Saya juga menegaskan bahwa perut adik bayi masih kecil sehingga jika ia makan atau minum yang lain ia bisa sakit perut. Tentunya saya menceritakan dengan gaya bahasa yang bisa ia mengerti. Saya juga menekankan bahwa tanpa nenen pun mamanya akan tetap memeluk dan menyayangi dia setiap waktu.

Beberapa kali saya juga menunjukkan dia gambar atau foto-foto bayi menyusui dan foto balita yang sedang minum susu menggunakan gelas (Kshatrian dot dan empeng free by the way) guna menunjukkan dia bahwa dilihat dari ukuran tubuhnya dia sudah terlalu besar untuk nenen. Namun saat itu saya belum terlalu tegas untuk bilang “TIDAK” saat dia minta menyusu. Usaha saya saat itu adalah lebih ke menunda atau mengalihkan perhatian. Kadang saya juga menyindir dengan halus seperti “masa sudah nenen lagi barusan kan sudah” atau “anak mama sudah besar, pintar, tapi masih nenen” sambil bercanda.

Hal penting yang saya garis bawahi dari proses menyapih adalah semakin besar usia anak, maka kita harus bersiap-siap dengan caranya yang semakin pintar ngeles ketika kita menasihati dia untuk berhenti nenen. Ada kejadian lucu soal upaya distracting supaya dia lupa minta nenen. Waktu itu dia sudah bosan atau capek main jadi dia minta nenen. Lalu saya menunjukkan dia gambar under the sea dan bilang “eh Kshatriyan, lihat deh ada gambar ikan hiu, ikan pari…” dengan harapan dia akan minta diceritakan dan bisa menunda keinginannya untuk nenen. Ternyata dia malah menjawab dengan sangat pintar “ada ikan nenen” sambungnya.. saya pun spontan tertawa terbahak-bahak dengan suami. It doesn’t work sometime.

Ada beberapa orang yang menyapih dengan mengurangi nursing time di siang hari atau di hanya di malam hari. Saya memilih siang hari karena saya ibu pekerja yang otomatis malam hari adalah waktu bonding yang tidak bisa saya ganggu gugat. Jadi saat libur saya berusaha full memberikan waktu dan atensi saya untuk ikut bermain dengannya atau mengajak dia jalan-jalan ke luar. Cara ini cukup efektif untuk memperpanjang interval nenen tapi belum cukup efektif untuk membuat dia benar-benar berhenti menyusui. Karena saat dia capek dan bosan dia kembali ingat akan nenen.

Menjelang usianya yang ke-3, saya sudah bertekad bulat akan menyapihnya. Proses itu tidak berlangsung lama ternyata hanya beberapa minggu saja. Saya bisa menerapkan proses menyapih dengan lancar karena suami saya saat itu sudah pindah kerja ke Bali. Karena merasa menyapih hanya di siang hari kurang efektif, saya pun mencoba lebih strick dengan cara berhenti menyusui di malam hari. Caranya adalah saat sepulang kerja, saya benar-benar meninggalkan ponsel saya, mematikan televisi dan menciptakan suasana main yang sempurna tanpa gangguan. Saya menurunkan semua senjata mainan dan mainan lama yang sudah lama dilupakan seperti tenda mainannya supa lebih niat dan total mainnya. Saya benar-benar dituntut untuk menjadi teman bermain yang asyik. Setiap permainan harus seru dan niat. Bukan asal menemani main sambil pegang handphone ya ibu..ibu..Saya juga selalu menekankan “daripada nenen mendingan main saja yuk”.

Kshatriyan kelihatan senang banget dengan perubahan mamanya. Saat itu saya membiarkan dia tidur larut malam untuk membuat dia benar-benar lelah dan benar-benar mengantuk. Saya menyadari karena saya ibu pekerja maka anak saya seperti rela menukar apa saja asal saya benar-benar menghabiskan waktu untuk bermain dengannya. Ia pun rela menahan ngantuk dan capeknya. Ketika dia sudah terlihat ngantuk dan minta nenen maka saya akan mengulang kata-kata bahwa nenen itu untuk adik bayi, bla, bla,bla. Ketika dia menangis, saya akan menawarkan opsi untuk memeluk dia saat tidur, tidur dengan dikipasi, atau digendong. Semua boleh asal bukan nenen. Ada beberapa anak yang juga mudah mengantuk jika ditimang (digoyang-goyang), namun anak saya paling mudah mengantuk jika dikipasi menjelang tidur.  Anda bisa mencoba cara seperti massage, mandi air hangat sebelum tidur dengan aroma terapi, dll untuk membuat si kecil rileks.

Hal lain yang saya pelajari adalah posisi menyusui adalah posisi yang paling nyaman bagi anak karena saat menyusui anak merasa sangat dekat dengan ibu. Saya melihat bahwa kedekatan ini tidak boleh hilang walaupun kita sudah berhenti menyusui. Jadi saat saya menyapihnya, saya membiarkan dia tidur sangat dekat dengan saya supaya ia merasa nyaman. Proses menyapih juga bukan proses yang linear, bisa maju mundur tergantung kesiapan ibu dan anak. Namun kita sebagai orang tua harus tetap konsisten dengan tujuan utama yaitu menyapih.

Oiya, last thing yang merupakan KUNCI dari keberhasilan saya menyapih dia adalah sebuah video YouTube. Video itu menayangkan anak balita yang menangis saat disapih oleh ibunya dan ibunya mengatakan “NO boo boo (istilah untuk nenen)”. Nggak tahu bagaimana caranya video ini membuat dia benar-benar berhenti minta nenen like magic.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s