Kehamilan Dengan Hyperemesis Gravidarum

Siapa yang hamilnya kebo?. Jika anda salah satunya maka bersyukurlah. Sungguh saya iri hati sama kalian kaum hamil kebo. Dirikanlah mesjid dan santunilah fakir miskin dan anak-anak terlantar. Hehehe (maaf intronya lebay).

Ini cerita mengenai hyperemesis gravidarum yang saya jalani di kehamilan ke-2. Sungguh ini bukan tulisan yang ingin saya bagikan, karena mengingat pengalaman buruk ini membuat saya kembali merasakan kesedihan dan trauma. Tapi saya tahu saya harus menulis ini karena ini adalah bagian dari kehidupan saya.

Apa itu Hyperemesis Gravidarum dan Apa Bedanya dengan Mual Muntah Biasa (Morning Sickness)?

Dikutip dari https://www.alodokter.com/hiperemsis-gravidarum

Hiperemesis gravidarum (HG) adalah mual dan muntah di masa kehamilan dengan frekuensi serta gejala yang jauh lebih parah daripada morning sickness. Jadi beda ya dengan mual muntah biasa. Dalam tingkat yang lebih parah malah HG bisa menyebabkan berat badan menurun, jantung berdebar, dehidrasi, bayi lahir dengan berat badan rendah, konstipasi, ketosis (peningkatan asam keton dalam urin), dll. Penderita HG biasanya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti bekerja atau melakukan hal-hal sederhana seperti mandi, dll.

HG

Saya Trauma

Saya ini anaknya gampang trauma. Otak saya seperti terhubung sama kejadian-kejadian pahit di masa lalu. Saya tidak ingin mendengarkan lagu yang sering diputar di radio semasa saya hamil karena perasaan mual bisa muncul kembali. Saya tidak ingin mencium aroma yang familiar saya cium di trimester pertama dan kedua. Intinya saya orangnya susah move on.

Perbedaan kehamilan Saya Anak Pertama dan Kedua

Hamil anak pertama:

Frekuensi muntah 8-10 kali sehari, tidak pernah opname, berat badan menurun sekitar 6 kilogram.

  • Jalan gemeteran tapi dikuat-kuatin biar kelihatan strong
  • Nyetir sambil muntah sudah biasa
  • Duduk tergeletak di lantai toilet kantor, nggak kuat berdiri karena terus menerus muntah
  • Maksa makan

Hamil anak kedua:

Frekuensi muntah: up to 20x sehari, bolak-balik opname untuk mendapatkan asupan makanan via infus, berat badan menurun drastis.

  • Cuti dari kantor
  • Tidur-tiduran di kasur, kantung plastik muntah stand by di samping kasur
  • Nonton TV seharian, tidak pergi kemanapun
  • Makan apapun yang saya bisa walalupun tidak sehat, yang penting ada yang masuk!!
  • Minum air putih pun muntah
  • Menjelang waktu tidur belum ada sedikitpun makanan yang berhasil tertahan di dalam perut hingga asam lambung menjadi-jadi
  • Urin keton tinggi, bolak balik cek darah
  • Sempat mengalami kondisi SVT atau jantung berdebar sangat cepat karena asupan elektrolit terutama kalium sangat rendah
  • Mandi harus sambil duduk di kursi karena kaki tidak kuat berdiri.

Saya Mengambil Cuti Tidak Dibayar (Unpaid Leave) sejak 8 minggu hingga 25 minggu kehamilan

Kalau kehamilan pertama saya selalu berusaha menjadi calon ibu yang kuat, kali ini saya menyerah. Saya mendeklarasikan bahwa saya tidak kuat. Saya ingin fokus terhadap kesehatan diri dan janin saya. Saya tutup kuping rapat-rapat terhadap kejulidan orang-orang yang berkomentar “masa iya mual sampai separah itu?” atau komentar julid lain seperti “jangan diikutin perasaan mualnya”. Bahkan banyak sekali yang berpendapat bahwa hyperemesis itu tidak real alias hanya perasaan si ibu saja. Hell yeah..screw you, People!!

Saya tidak mau berdiri dengan menahan gemetar di transportasi umum karena tidak ada yang bisa saya makan. Saya tidak mau menangis tergeletak di toilet kantor karena terus menerus muntah. Saya tidak ingin membawa kantung plastik muntah dan berhenti menyetir mobil hanya untuk muntah. HELL NO!!! Saya ingin ISTIRAHAT di rumah dan menerima kenyataan. Jika kehidupan pekerjaan saya harus terhenti karena kehamilan ini then let it be. Rezeki bisa dicari tapi kesehatan dan keselamatan saya dan janin saya nomor satu.

HRD Kantor sampai berkali-kali mendatangi rumah saya (To make sure that i’m not lying)

Saya bersyukur banget karena kantor saya memberikan dispensasi dan pengertian semacam ini. mungkin tidak semua orang bisa mendapatkan dispensasi seperti saya dan harus terpaksa mengundurkan diri dari perusahaan.

Bagaimana cara saya bertahan Selama Mengalami HG?

  • Berusaha makan dan minum apapun yang saya bisa. Ada kalanya saya hanya bisa minum minuman kemasan atau makan makanan yang kurang sehat atau instan untuk menghindari rangsangan bau aroma masakan.
  • Berusaha untuk tidur sebanyak mungkin, karena tidur membantu mengurangi frekuensi muntah
  • Meminta bantuan dari orang lain untuk menyediakan makanan
  • Segera ke IGD jika merasa sangat membutuhkan bantuan

Saya pulih di usia kandungan 25 minggu

Akhirnya saya berhasil mendapatkan kehidupan saya kembali di usia kandungan 25 minggu. Frekuensi mual muntah berkurang hingga akhirnya tidak muntah sama sekali. Secara perlahan berat badan saya mulai naik.

Bagaimana anda bisa membantu ibu-ibu yang mengalami hyperemesis gravidarum?

Hanya satu. Jangan julid please. Pikir sebelum bicara. Tempatkan diri anda di posisi mereka. Kata-kata anda bisa saja menjadi pisau bagi orang lain.

Pesan saya untuk semua ibu-ibu hamil yang didiagnosa hyperemesis selama kehamilan adalah kamu tidak perlu selalu berusaha menjadi kuat. Kamu boleh mengeluh sesekali dan boleh menangis jika memang itu membuatmu merasa lebih baik. Terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa kita bukan emak-emak yang hamilnya kebo. Kesehatan dan keselamatan diri dan janin kita lebih penting daripada sekedar komentar orang lain. Badai pasti berlalu.

buatblog-hg-e1553137100852.jpg

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s