Cerita Weaning With Love Kshatriyan

Yes.. I know it’s a little bit too late untuk menulis soal proses menyapih Kshatriyan. Namun saya merasa proses menyapih adalah topik yang cukup penting untuk dibicarakan jadi mari merapat ke sini bagi para momies yang sedang dalam proses menyapih si kecil. Bagi saya proses menyusui Kshatriyan, putera saya adalah masa yang sangat emosional dan penuh dengan ups and down. Bagi yang belum tahu bagaimana perjuangan saya menyusui Kshatriyan bisa melihat di link post ini. Intinya adalah saya pernah harus mengalami operasi abses yang sangat tidak menyenangkan. Namun saya bersyukur pengalaman tersebut tidak menghentikan niat saya untuk terus menyusui dia.

Kshatriyan full berhenti menyusui kira-kira beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-3. Saya sangat menikmati nenen time dimana hanya ada saya dan dia. Mungkin itu sebabnya saya belum bisa menyapihnya di usia 2 tahun. Bukan berarti saat ia menginjak usia 2 tahun saya tidak berupaya apa-apa untuk menyapihnya. Namun saya menyadari bahwa tekad saya belum kuat saat itu. Bisa dibilang saat itu saya masih sangat permisif dan mentoleransi dirinya. Belum lagi faktor papanya yang suka nggak tega melihat Kshatriyan nangis minta nenen.

Saat Kshatriyan sudah berusia 2 tahun, saya sudah mulai stop melakukan pumping. Saya yakin ketika proses pumping saya skip, pasti stok asi di PD juga menurun karena berkurangnya demand. Dengan cara itu saya mencoba mengajari Kshatriyan bahwa semakin Ia besar, semakin sedikit ASI dalam tubuh mama dan lama kelamaan bisa habis. Saya juga seringkali mengajari dia bahwa hanya adik bayi yang benar-benar membutuhkan ASI karena adik bayi belum bisa makan dan minum apa-apa kecuali nenen. Saya juga menegaskan bahwa perut adik bayi masih kecil sehingga jika ia makan atau minum yang lain ia bisa sakit perut. Tentunya saya menceritakan dengan gaya bahasa yang bisa ia mengerti. Saya juga menekankan bahwa tanpa nenen pun mamanya akan tetap memeluk dan menyayangi dia setiap waktu.

Beberapa kali saya juga menunjukkan dia gambar atau foto-foto bayi menyusui dan foto balita yang sedang minum susu menggunakan gelas (Kshatrian dot dan empeng free by the way) guna menunjukkan dia bahwa dilihat dari ukuran tubuhnya dia sudah terlalu besar untuk nenen. Namun saat itu saya belum terlalu tegas untuk bilang “TIDAK” saat dia minta menyusu. Usaha saya saat itu adalah lebih ke menunda atau mengalihkan perhatian. Kadang saya juga menyindir dengan halus seperti “masa sudah nenen lagi barusan kan sudah” atau “anak mama sudah besar, pintar, tapi masih nenen” sambil bercanda.

Hal penting yang saya garis bawahi dari proses menyapih adalah semakin besar usia anak, maka kita harus bersiap-siap dengan caranya yang semakin pintar ngeles ketika kita menasihati dia untuk berhenti nenen. Ada kejadian lucu soal upaya distracting supaya dia lupa minta nenen. Waktu itu dia sudah bosan atau capek main jadi dia minta nenen. Lalu saya menunjukkan dia gambar under the sea dan bilang “eh Kshatriyan, lihat deh ada gambar ikan hiu, ikan pari…” dengan harapan dia akan minta diceritakan dan bisa menunda keinginannya untuk nenen. Ternyata dia malah menjawab dengan sangat pintar “ada ikan nenen” sambungnya.. saya pun spontan tertawa terbahak-bahak dengan suami. It doesn’t work sometime.

Ada beberapa orang yang menyapih dengan mengurangi nursing time di siang hari atau di hanya di malam hari. Saya memilih siang hari karena saya ibu pekerja yang otomatis malam hari adalah waktu bonding yang tidak bisa saya ganggu gugat. Jadi saat libur saya berusaha full memberikan waktu dan atensi saya untuk ikut bermain dengannya atau mengajak dia jalan-jalan ke luar. Cara ini cukup efektif untuk memperpanjang interval nenen tapi belum cukup efektif untuk membuat dia benar-benar berhenti menyusui. Karena saat dia capek dan bosan dia kembali ingat akan nenen.

Menjelang usianya yang ke-3, saya sudah bertekad bulat akan menyapihnya. Proses itu tidak berlangsung lama ternyata hanya beberapa minggu saja. Saya bisa menerapkan proses menyapih dengan lancar karena suami saya saat itu sudah pindah kerja ke Bali. Karena merasa menyapih hanya di siang hari kurang efektif, saya pun mencoba lebih strick dengan cara berhenti menyusui di malam hari. Caranya adalah saat sepulang kerja, saya benar-benar meninggalkan ponsel saya, mematikan televisi dan menciptakan suasana main yang sempurna tanpa gangguan. Saya menurunkan semua senjata mainan dan mainan lama yang sudah lama dilupakan seperti tenda mainannya supa lebih niat dan total mainnya. Saya benar-benar dituntut untuk menjadi teman bermain yang asyik. Setiap permainan harus seru dan niat. Bukan asal menemani main sambil pegang handphone ya ibu..ibu..Saya juga selalu menekankan “daripada nenen mendingan main saja yuk”.

Kshatriyan kelihatan senang banget dengan perubahan mamanya. Saat itu saya membiarkan dia tidur larut malam untuk membuat dia benar-benar lelah dan benar-benar mengantuk. Saya menyadari karena saya ibu pekerja maka anak saya seperti rela menukar apa saja asal saya benar-benar menghabiskan waktu untuk bermain dengannya. Ia pun rela menahan ngantuk dan capeknya. Ketika dia sudah terlihat ngantuk dan minta nenen maka saya akan mengulang kata-kata bahwa nenen itu untuk adik bayi, bla, bla,bla. Ketika dia menangis, saya akan menawarkan opsi untuk memeluk dia saat tidur, tidur dengan dikipasi, atau digendong. Semua boleh asal bukan nenen. Ada beberapa anak yang juga mudah mengantuk jika ditimang (digoyang-goyang), namun anak saya paling mudah mengantuk jika dikipasi menjelang tidur.  Anda bisa mencoba cara seperti massage, mandi air hangat sebelum tidur dengan aroma terapi, dll untuk membuat si kecil rileks.

Hal lain yang saya pelajari adalah posisi menyusui adalah posisi yang paling nyaman bagi anak karena saat menyusui anak merasa sangat dekat dengan ibu. Saya melihat bahwa kedekatan ini tidak boleh hilang walaupun kita sudah berhenti menyusui. Jadi saat saya menyapihnya, saya membiarkan dia tidur sangat dekat dengan saya supaya ia merasa nyaman. Proses menyapih juga bukan proses yang linear, bisa maju mundur tergantung kesiapan ibu dan anak. Namun kita sebagai orang tua harus tetap konsisten dengan tujuan utama yaitu menyapih.

Oiya, last thing yang merupakan KUNCI dari keberhasilan saya menyapih dia adalah sebuah video YouTube. Video itu menayangkan anak balita yang menangis saat disapih oleh ibunya dan ibunya mengatakan “NO boo boo (istilah untuk nenen)”. Nggak tahu bagaimana caranya video ini membuat dia benar-benar berhenti minta nenen like magic.

 

Breastfeeding Beyond One Year Old

Di usia Kshatriyan 1 tahun 5 bulan ini, saya masih rajin pumping di kantor. Lucunya, banyak sekali rekan-rekan kerja yang mencibir dan mempertanyakan kenapa masih kekeuh menyusui saat anak saya sudah di atas satu tahun. Salah seorang teman saya malah secara terang-terangan berkata “disapih aja atuh”. Teman saya yang lain juga bertanya “bukannya menyusui anak di atas 1 tahun itu sudah tidak ada manfaatnya?”, atau “emangnya ASI nya masih keluar?”. Saya sih cuma cengengesan aja, soalnya di kantor masih ada orang-orang nggak PRO ASI yang tidak suka dikuliahi dengan berbagai teori.

Yuk, kita sama-sama sharing mengenai topik menyusui lebih dari 1 tahun. Ibu yang menyusui anaknya lebih dari 1 tahun harus memberikan ucapan selamat bagi dirinya sendiri, karena telah memberikan nutrisi terbaik bagi anaknya selama lebih dari 1 tahun. Menurut American Academy of Pediatrics:

“Breastfeeding should be continued for at least the first year of life and beyond for as long as mutually desired by mother and child….Increased duration of breastfeeding confers significant health and developmental benefits for the child and the mother….There is no upper limit to the duration of breastfeeding and no evidence of psychological or developmental harm from breastfeeding into the third year of life or longer.” (AAP 2005)

Menurut riset (Victoria, 1984), komposisi ASI ibu dengan anak berusia di atas 1 tahun hampir mirip dengan komposisi ASI di awal menyusui, yang mana sangat kaya akan protein, lemak, kalsium dan vitamin (Jelliffe and Jelliffe, 1978). Beberapa riset lain (saya lupa sumbernya) menyebutkan bahwa kandungan ASI di atas 1 tahun kaya akan lemak dan energi yang sangat dibutuhkan untuk aktivitasnya sehari-hari. Selain itu, dari segi imunitas, semakin lama bayi disusui maka semakin tinggi daya tahan tubuhnya terhadap penyakit (Goldman et al, 1983) dan alergi (Savilahti, 1987). Belum lagi manfaat psikologis akibat bonding antara ibu dan anak yang tercipta saat menyusui.

Jadi mengapa kita harus berhenti menyusui sebelum anak kita berusia 2 tahun?, padahal WHO sendiri merekomendasikan pemberian ASI hingga 2 tahun.

  1. Faktor budaya

Menganggap pemberian ASI lebih dari 1 tahun dianggap membuat anak menjadi manja, beberapa menganggap risih melihat anak di usia 1 tahun masih disusui. Padahal menyusui itu memberikan rasa nyaman, aman (secure) yang akan justru membuat kepercayaan diri anak menjadi meningkat akan kepastian kasih sayang dari orangtua, hal ini sama sekali tidak membuat anak menjadi manja.

  1. Faktor ketidaktahuan akibat malas membaca dan mencari informasi.
  2. Alasan medis seperti anak berusia 1 tahun sudah boleh mengkonsumsi susu sapi sehingga tidak ada alasan untuk tetap disusui
  3. Pemberian ASI disela waktu makan dianggap mengurangi selera makan anak karena anak menjadi kenyang

Saya sendiri sudah mengalami pasang surut volume asi perah, kisah kasih dengan pompa-pompa yang rusak dan akhirnya memerah dengan tangan, dan lain-lain. Pernah ASIP saya turun hingga hanya 150 ml dalam 1 hari dan dengan usaha makan sayuran sebanyak-banyaknya ASIP saya kembali ke 2 botol. Horeeeee.. Let’s pump till the last drop!

 

Curhat si Busui (Ibu Menyusui)

Breastmilk Picture

Jadi busui itu memang tidak mudah dan penuh tantangan. Harus mau bangun malam untuk menyusui plus pompa buat stok selama bekerja. Selama cuti melahirkan saya malah leyeh-leyeh dan gak nabung asi sejak dini melainkan sebulan sebelum cuti berakhir.Saya hanya bisa nabung asi 90 ml per harinya. Akhirnya saya masuk kantor dengan berbekal 30 botol asi @ 90 ml saja.

Kalau selama di rumah sekali memerah paling top dapet 50 ml (karena disusui bayi terus menerus), selama di kantor bisa dapet 100 ml sekali pompa (ini termasuk sedikit dibandingkan busui lainnya). Saat membawa pulang 3 botol penuh berisi ASI masing-masing 120 ml, saya merasa bangga dan seperti pemenang. Tapi ternyata oh ternyata catatan Asisten Rumah tangga saya menunjukkan bayi saya selalu minum jauh lebih banyak dari yang saya hasilkan di kantor.

Selama di kantor saya mungkin pejuang tertangguh. Kalau yang lain baru pompa di atas jam 9 pagi, saya sudah mulai pompa dari jam 7.30. Saya tiba di kantor paling pagi loh. Datang pagi membuat saya lebih rileks dan tidak terburu-buru saat mompa. Malah bisa mompa sambil putar you tube. Saya dengan bangga meletakkan botol ASIP pertama di kulkas. Jam 11 siang saya kembali meletakkan hasil pompa saya di kulkas. Ternyata oh ternyata hasil pompa saya selama 2 kali pompa sama dengan hasil sekali pompa busui yang lain. Ahahahaha… jadi intinya, jika saya ingin menghasilkan ASIP yang sama banyak dengan busui lain, saya harus memompa lebih sering dari mereka. Pernah saat si bos gak masuk, saya mompa sampai 6 kali dengan durasi pendek. Intinya saya harus berjuang keras untuk menghasilkan ASIP yang gak seberapa itu. Itu pun dicelotehi mertua kalau tetangga saya ASIPnya lebih banyak bisa menghasilkan 500 ml per hari.

Mompa berkali-kali pun butuh nyali loh, karena bos saya duduk persis di belakang saya. Dia tahu persis apa yang saya kerjakan. Mulai dari mompa, nyuci pompa, abis mompa kelaparan dan nyari cemilan dulu, bolak-balik ke kamar mandi karena harus banyak minum. Terus kapan kerjanya dooong…Baru sebentar mompa, ruang pompa sudah diketok-ketok busui lain. Ayoooo gantiaaaan….

Pernah saking frustasinya saya sama per pompaan ini. Saya duduk sambil menghitung-hitung hutang stok asi saya selama satu minggu dan berapa jumlah asi yang harus saya hasilkan di malam hari dan akhir pecan supaya tidak defisit. Saya malah menemukan diri saya mencoba membuat kurva supply and demand asi saya saking stressnya. Ahahahahaha…

Pulang pergi kantor saya selalu ditemani back pack saya yang berat banget. Isinnya selalu ada pompa, ice bag, makan siang, dan booster ASI lain seperti kacang hijau atau kacang kedelai. Selamat tinggal kepada tas cantik. Tiap saya masuk metromini yang penuh umpel-umpelan, saya dan tas besar ini selalu jadi musuh bagi penumpang lain dan kondektur yang mau numpang lewat untuk nagihin ongkos. Mau ninggalin pompa asi di kantor, tapi belum nemuin pompa asi yang sesuai dengan selera lagi untuk dibawa pulang ke rumah.

Telat pulang dikiiit aja, saya sudah resah. Udah gatel pengen cepet-cepet nyampe rumah. Angkot ngetem lah, macet lah, bos gak pulang-pulang lah. Semua hal bisa bikin saya frustasi. Kayaknya STRES adalah nama tengah saya. Habis, sedikit saja saya telat pulang satu botol susu lagi dari freezer melayang.

Sampai di rumah, boro-boro bisa kipas-kipasan atau luluran atau keramas dan hair dryeran. Saya harus makan buru-buru, mandi buru-buru, pakai baju buru-buru karena Asisten Rumah Tangga sudah dijemput sang suami untuk pulang. Gak napas deh rasanya…

Sebenarnya bisa saja saya langsung pompa saat payudara lagi kenceng-kencengnya pas sampai di rumah biar hasil perahannya banyak. Tapi kok rasanya kasihan kalau si bayi menyusu di payudara yang agak kosong. Saya seneng banget liat anak saya puas dan tidur kenyang kalau menyusu di payudara yang full seperti saat pulang kantor. Biarlah saya yang bangun malam lebih sering untuk menutupi kekurangan stok ASI. Jadi prinsip saya, subuh dan pulang kantor ASInya adalah jatah minum anak saya hari ini, bukan untuk stok. Stoknya dibuat saat bangun malam saja. Dengan begitu saya bisa terus menerus liat muka puas si kecil selepas menyusu.

Dengan perasaan capek, ngantuk, bosan saya memaksa diri saya bangun sampai 3 kali di malam hari untuk menutupi hutang-hutang saya. Karena jika saya mengandalkan stok ASI terus menerus, suatu hari pasti stok ASIP tersebut akan habis. Benar saja, ketika saya membuka freezer dan melihat stok ASIP saya tinggal satu baki kecil, saya langsung stress. Waktu memompa pun jadi penuh tekanan dan keharusan untuk menghasilkan asi sesuai target. Padahal kunci menghasilkan ASI yang berlimpah adalah menjauhkan diri kita dari segala macam stress dan pikiran negatif.

Setiap hari saya selalu meluncurkan ide-ide baru sebagai Plan B jika suatu saat saya benar-benar tidak bisa menutupi kebutuhan minum bayi saya (tapi tidak termasuk ngasih sufor ya) seperti delivery ASI lah, donor ASI lah, dll. Suami saya akhirnya bilang bahwa segala kekhawatiran dan kecemasan itulah yang tampaknya membuat saya tidak bisa memproduksi lebih banyak. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi membuka tutup freezer ASI saya. Setiba di rumah saya biarkan suami saya yang mengatur manajemen ASIP saya, sehingga saya memompa tanpa beban dan tuntutan serta bayang-bayang sisa ASIP yang menipis di freezer. Intinya, berusaha saja yang tebaik, tidak usah dengan tuntutan harus menghasilkan sekian botol atau sekian milliliter. Tetap optimis dan tetap semangat. Terus cari dukungan dan ngobrol dengan para busui lain untuk meningkatkan percaya diri. Bisa…kita pasti bisa….

Dilema Menyusui di Tempat Umum

Pernah tidak sih Mom merasakan susahnya menyusui bayi di tempat umum?. Seminggu setelah melahirkan, rumah sakit di tempat saya melahirkan membuatkan jadwal temu anak saya dengan dokter anak. Selain itu, dua minggu setelah melahirkan saya sempat sakit dan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Secara saat itu saya belum punya stok ASIP sehingga harus bawa si bayi kemana-mana. Saya ingat pada masa-masa itu bahkan sampai sekarang saya merasakan ketidaknyamanan membawa bayi saya ke tempat umum karena satu alasan yaitu harus menyusuinya di tengah keramaian. Kekhawatiran saya adalah harus menenangkan bayi saya yang menangis karena terus menerus haus dan minta disusui dan harus menyusuinya di tempat umum tanpa memancing perhatian orang lain.

Karena kesulitan itu saya sering melihat busui yang menyusui di depan umum dengan payudara yang terbuka. Hal ini seringkali menyebabkan busui tersebut menjadi pusat perhatian bahkan menerima cemohan dari orang lain. Mungkin ada busui yang memang kelewat pede menunjukkan bagian tubuhnya atau dia melakukannya dengan risih karena tidak punya pilihan lain atau kepepet. Padahal menurut saya, Hei! Dia hanya ingin memberi makan anaknya yang kelaparan. Hanya saja jika bisa menyusui dengan cara yang lebih sopan, tentunya akan lebih baik toh sekarang banyak nursing cover atau celemek khusus menyusui untuk menutupi dada para busui saat menyusui.

Berikut adalah kesulitan yang saya hadapi saat menyusui di tempat umum:
1. Sulitnya melakukan perlekatan (latch-on) mulut bayi dan putting susu saat mengenakan nursing cover
Proses perlekatan sendiri menurut saya memang tidak mudah baik dengan atau tanpa nursing cover atau penutup dada. Terlebih jika kita harus melekatkan mulut bayi dengan keadaan kepala bayi yang tertutup. Saya takut sesekali akan menunjukkan payudara tanpa sengaja akibat gerakan bayi yang tidak bisa menemukan posisi yang pas.
2. Tidak semua bayi suka ditutup wajahnya.
Terkadang ketika bayi saya tidak dalam keadaan mengantuk, dia sangat rewel ketika wajahnya ditutupi oleh nursing cover. Terlebih jika udaranya agaj panas sehingga membuat bayi menjadi semakin tidak nyaman.
3. Terhalangnya kontak mata antara bayi dan ibu.
Dalam hal ini, sangat penting memilih nursing cover yang berkualitas bagus dan memiliki celah yang memungkinkan kita untuk mengintip bayi ketika menyusui. Ketika bayi saya dapat melihat saya walaupun melalui celah sempit, ia menjadi sedikit lebih tenang.
4. Sulit melepaskan bayi sejenak dari payudara ketika kita benar-benar harus melakukan sesuatu. Ketika saya memeriksakan diri ke dokter ada kalanya saya harus menimbang berat badan atau berbaring saat pemeriksaan. Kegiatan tersebut tidak mungkin dilakukan dengan membawa bayi yang sedang menyusui di pelukan saya. Terkadang saya harus memaksa bayi berhenti menyusu untuk sementara waktu sehingga menyebabkan bayi mengamuk atau rewel. Bayi saya sempat menjadi sangat rewel dan hanya dapat ditenangkan ketika saya menyusuinya sambil berdiri dengan gendongan. Saya sempat frustasi ketika harus menggendong bayi yang sedang menangis sambil menutupinya dengan nursing apron dan mengeluarkan dompet untuk membayar tagihan rumah sakit.
5. Bahkan dengan menggunakan nursing apron menyusui tetap memancing perhatian
Nursing room memang tersedia, tapi saya tidak mungkin bisa mengantri antrian di dokter jika saya terus menerus ada di ruang menyusui. Herannya, walaupun saya sudah menggunakan nursing cover saya merasa tetap menjadi pusat perhatian. Bahkan beberapa kali ada orang yang menegur saya untuk menyusui di ruang menyusui.
Saya sempat berpikir untuk menyusui anak saya dengan botol berisi ASIP selama saya harus beraktivitas di luar rumah. Namun alangkah repotnya jika saya harus menghangatkan asi dingin setiap kali bayi saya mau minum, belum lagi saya harus menahan rasa kencang di payudara jika saya tidak menyusuinya secara langsung. Hiks!

Berikut adalah taktik atau tips yang biasa saya gunakan ketika menyusui di tempat umum:
1. Gunakan baju yang tepat, baju berkancing depan atau bahkan baju khusus menyusui. Sebagai tambahan gunakan bra khusus menyusui.
2. Pilih nursing cover yang pas agar kita tetap bisa mengawasi bayi dari celah penutup tersebut. Kita bisa memilih nursing cover yang dilengkapi dengan ring yang bisa ditarik dan dilengkapi dengan kawat plastik untuk menjaga eye-contact. Selain itu juga terdapat nursing apron dari bahan spandek yang lebih pas dipakai agar tidak terbuka ketika menyusui.
3. Terus berlatih membuka-tutup kancing pakaian kita dengan satu tangan, melakukan perlekatan dengan menggunakan penutup tanpa harus tanpa sengaja menunjukkan dada kita.
4. Selalu waspada untuk menyusui bayi kita sebelum benar-benar lapar, sehingga ia tidak mengamuk di tempat umum
5. Temukan spot yang nyaman untuk menyusui, di daerah yang tidak dilalui terlalu banyak orang dan nyaman agar kita bisa bersandar dan meluruskan kaki selama menyusui
6. Jika kita tidak membawa nursing cover saat berpergian, usahakan tutup bagian dada dengan meletakkan selimut atau kain apapun dengan cara menyampirkannya di bahu kita dan menggunakan bagian bawah kain sebagai penutup dada.
7. Tetap tenang dan jangan panik. Jika kita masih punya waktu sebelum beraktivitas, kita bisa menyusui bayi di nursing room terlebih dahulu agar menyisakan kita lebih banyak waktu untuk beraktivitas sebelum menyusui di tempat umum.
8. Minta bantuan suami/teman/ atau siapapun untuk mendampingi kita saat berpergian. Hal ini bisa mempermudah kita menyusui bayi tanpa harus membawa barang-barang di tangan kita dan menjaga barang-barang tersebut agar tidak tertinggal. Kita juga bisa meminta pendamping untuk memegangi bayi kita untuk sementara waktu ketika kita benar-benar harus melepaskan bayi sejenak.
9. Bawa bantal atau penyangga lainnya yang bisa digunakan sebagai penopang tangan agar kita bisa menyusui dengan lebih nyaman

Pokoknya, apapun tantangannya tetap semangat menyusui ya moms…

Saya, abses payudara, dan perjuangan memberi ASI.

ASI, ASI, dan ASI. Saya seorang newmom yang memiliki anak saat ini berusia 50 hari. Selagi hamil, saya seorang bumil yang cukup rajin mencari tahu soal ASI dan mengikuti kelas ASI. Intinya saya tidak melahirkan anak dengan ketidaktahuan sama sekali.

Semangat memang rasanya saat pertama kali punya bayi. Pokoknya harus ASI. Saya dan suami sampai menyelipkan hasil kuliah asi saya ke tablet mertua supaya beliau bisa baca dan jadi nenek asi. Intinya saya berjuang supaya suami dan sang eyang bisa support saya kasih ASI.

Rupanya perjalanan saya tidak mulus, puting lecet, payudara bengkak rupanya baru awalnya saja. Ketika saya meraba payudara, ternyata ada tonjolan yang sangat sakit ketika diraba. Hati saya mengatakan ah biasa ini.. Namanya juga lagi menyusui..paling ada yang tersumbat susui aja terus.

Belum sempat saya fokus dengan si tonjolan ini, saya kena demam tinggi hingga 39 derajat celcius disertai meriang. Dokter pertama yang saya temui untuk berobat hanya memberi paracetamol dan suruh tunggu tiga hari, tiga hari kemudian saya ke dokter lain dan dia kira saya tipes, dia kasih antibiotik, dan suruh tunggu 3 hari untuk cek darah. Besoknya, muncul bentol2 di tangan saya dan saya meriang tiap kena dingin. Setiap kena dingin ini pun, bentol2 itu bermunculan. Sayapun didiagnosa kena campak. Saya memutuskan istirahat di rumah saja dan menunggu campaknya sembuh, padahal dokter sudah menyuruh saya dirawat dan stop memberi asi ke bayi saya. Saya waktu itu gak peduli, saya pulang dan tetap menyusui bayi saya.

Lebih dari seminggu, kok penyakit gak sembuh2 ya, panasnya gak hilang, bentol sudah sampai ke muka, mata bengkak, bibir bengkak banget kaya habis dioperasi plastik, kulit telapak tangan dan kaki saya mengelupas semua seperti ular mau ganti kulit. Menyusui rasanya berat karna demam dan gatal2 luar biasa. Waktu bentol sampai ke dada dan bayi nempel dada saya muncul kekhawatiran ia akan tertular. Saya menyerah. Saya memutuskan dirawat di rs. Saya sadar dengan ketidakadaan stok asi berarti saya harus kasih anak saya sufor. Tapi rasanya saat itu saya gak punya pilihan, saya harus secepatnya sembuh karna bayi mulai rewel dengan supply asi di payudara yg mulai drop. Saya melepas anak saya dengan air mata. Pas neneknya beliin dia sufor, hati saya benar2 hancur. Saya merasa gak mampu kasih makan dia (lebay).

Setibanya di rs dan terpapar ac yang dingin, wajah saya langsung bengkak, saya meriang, bentol memenuhi muka, dan saya langsung demam tinggi. Saya diberi infus, pereda demam dan antibiotik via infus. Saya tanya sana sini apakah aman memompa dan memberi minum anak saya dengan asi yang mengandung antibiotik. Konselor laktasi di rsb tempat saya bersalin bilang boleh karena kandungan antibiotik hanya ada sedikit sekali di dalam asi. Di literatur lain mengatakan harus tunggu 6 jam setelah antibiotik habis, baru boleh pompa asi yang akan diberi ke si bayi. Waduh, kalau 6 jam kapan saya bisa pompa? Dikit banget dong yang bisa saya kasih ke anak saya. Sayapun nekat, pompa terus dan kasih ke bayi walau dilarang suster. Tiap malem suami anter asip untuk bayi saya, sehingga bayi saya minum asi dan formula bergantian.

Saya yang idealis ini maunya tiap diminumin asi perah ataupun sufor, susu diberikan pake gelas sloki kecil bukan pakai dot supaya gak bingung puting, tapi mertua bandel kasih pakai dot dengan alasan gak tega ngasih pake gelas sementara anak saya sudah nangis. Suami saya marah sama ibunya dan menjelaskan soal resiko bingung puting. Tapi kelihatannya si ibu tetap bersikeras pada pendiriannya (ilmu asi yang saya share ke tablet beliau kayaknya gak dibaca). Sungguh saya pengen ngejerit. Susah banget cari orang yang bisa kasih support soal konsep asi.

Setelah 3 hari dirawat di kamar isolasi, si dokter jaga bilang kalau saya gak kena campak tapi infeksi bakteri yang memicu reaksi alergi. Si dokter gak bisa jelasin bakteri apa dan dari mana. Sempat saya teringat benjolan di payudara saya, tapi saya gak mau.mengungkapkan ke dokter. Saya sudah pengen cepet2 pulang karena merasa kondisi tubuh sudah membaik dan bentol2 sudah hilang. Kalau saya cerita soal si benjolan pasti urusannya bisa lebih lama lagi. Hari ke 5 saya diperbolehkan pulang setelah suhu tubuh bebas demam.

Setelah sampai rumah, kangen saya sama si kecil sudah tak tertahan. Saya langsung susui dia dan dia nyusu lama banget seperti kangen sama saya. Saya bertekad gak mau mengulangi kebodohan saya dengan tidak menyetok asi, saya mulai rajin pompa. Hasil pompa saya cuma seuprit, bodo amat, berapapun saya simpan. Hasilnya botol asip berisi asi yang jumlahnya bervariasi 30,60,90,100,120 ml. Dengan catatan yang 120ml itu hasil nyicil yah, bukan saya dapatkan dalam sekali pompa. Hasil pompa di payudara kanan yang ada benjolan cuma sedikit dan gak lancar. Benjolan dari hari ke hari semakin sakit dan membengkak lagi. Kulit di sekitar benjolan berwarna merah dan sangat sakit jika teraba. Saya sudah coba massage, kompres air dingin dan hangat bergantian, tetapi benjolan tak kunjung mengempis atau hilang. Saya pun ke dokter bedah. Si dokter memvonis saya mastitis disertai abses, yaitu benjolan disertai nanah di dalamnya. Saya harus usg mamae. Sehabis usg, terlihatlah tonjolan berdiameter sekitar 2cm dan berisi nanah. Keputusan si dokter sudah bulat, saya harus diinsisi alias disayat atau dioperasi dan dibius total. Jujur saya stres dengan kondisi sakit beruntun ini pasca melahirkan. Ingin rasanya lari sebentar dan melupakan semua masalah ini.

Tidak puas sayapun ke dokter kandungan saya untuk mencari second opinion. Beliau menjelaskan bahwa prinsipnya, jika daya tahan tubuh saya bagus maka ketika nanah pecah, nanah bisa diserap oleh tubuh dan hancur oleh sel darah putih, namun jika tidak bisa jadi si benjolan ini mendesak kantung2 susu di sekitarnya dan membuat penyumbatan atau pecah dan timbul benjolan baru. Saran beliau sama, lebih baik insisi. Bismilah, saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan untuk melakukan insisi. Saya memastikan ke dokter bedah bahwa saya masih bisa menyusui setelah operasi atau tidak ada kelenjar susu yang terkena dampak proses penyayatan selama operasi dan operasi tidak menimbulkan dampak terhadap supply asi saya.

Tekad saya untuk memberikan asi ekslusif kembali diuji. Setelah operasi, saya harus menjalani rawat inap semalam dan hari selanjutnya baru bisa pulang tengah hari untuk menyelesaikan pembayaran dan administrasi rs. Cukup gak yah stok saya. Saya membuka kulkas dan menghitung stok asi saya. Saya gak yakin bahkan cukup untuk 1 hari dan untuk besoknya lagi sampai saya pulang dari rs. Saya pun menitip pesan sama si mbak untuk nginep dan jaga anak saya (kalo dititip mertua pasti stok asi saya gak akan cukup). Saya berpesan untuk ngasih ASInya sedikit2 dulu, jangan langsung 120ml. Kalau 60 ml sudah membuat dia anteng ya udah. Intinya saya minta tolong supaya stok asinya diirit2. Hehehe. Maaf nak bukan mama pelit, tapi daripada kamu minum sufor.

Di rs saya menggiatkan aktivitas pompa beberapa jam sekali dan taro di icebag yang sudah dikasih icegel dan batu es. Saya bahkan coba minum sedikit asinya untuk memastikan rasa asi saya tidak aneh dan layak minum. Saat ada kesempatan suami pulang antar hasil perahan. Alhamdulilah, si mbak pinter irit2 asinya. Intinya asi saya cukup sampai saya pulang.

Setelah operasi perjuangan saya belum selesai. Prinsip insisi ini adalah sayatan yang dibuat tidak dijahit kembali melainkam dibiarkan terbuka dan ditutup kain kasa. Jika penasaran sayarannya seperti apa, bayangkan sebuah lubang (bukan robekan atau goresan) di atas dada anda dimana anda bisa mengintip ke dalamnya dan melihat daging di dalam lubang tsb. Oh my god!. Lagi-lagi si dokter bedah larang saya menyusui sampai luka tsb menutup sendiri dengan sempurna. Oh no! Pasalnya bayi saya ini sering tidak puas minum hanya dari satu payudara alias masih haus. Saya pun mencari literatur lagi (rata2 literatur pusat studi asi atau organisasi asi negara lain). Begitu menemukan teori yang mengemukakan bahwa asi harus diberikan selama proses penyembuhan insisi, saya langsung tancep nyusuin bayi saya di payudara kanan dan tetap pompa payudara tsb. Sampai saat saya menulis post ini, saya masih berjuang memberikan asi selama proses recovery abses. Saya tahu perjuangan saya masih panjang karena harus nyetok asi lagi dari awal untuk bekerja nanti (udah mepet nih). Tapi saya yakin, dengan keyakinan saya pasti bisa melewati ini semua dan mencukupi gizi si kecil dengan asi ekslusif. Semangat!