Si ceriwis!

Hari ini saya mau sharing mengenai kemampuan bicara anak saya di usia 1 tahun 6 bulan. Saya menganggap kemampuan bicara adalah aspek yang sangat penting untuk dikejar progressnya, karena jika kemampuan bicaranya masih terlalu sedikit ia akan menjadi emosional saat keinginannya tidak tersampaikan dengan baik. Namun harus diingat, bahwa melatih bicara harus sesuai dengan kemampuan belajar dan usia anak jadi sifatnya tidak dipaksakan. Sampai saat ini Kshatriyan sudah bisa melafalkan 60 kata. Setiap kata baru yang ia ucapkan membuat saya tersenyum atau bahkan tertawa karena begitu bangga mendengarnya. Iseng saya google, anak berusia 18 bulan sudah mampu mengucapkan 20-50 kata.

Untuk mengembangkan kemampuan bicaranya, saya selalu rutin mengajaknya bicara dengan kalimat yang lengkap (subjek, predikat, objek) dan dengan menggunakan bahasa Indonesia EYD contohnya “Kshatriyan pakai sandal dulu ya” atau “Kshatriyan hati-hati yah mainnya, nanti kepala kshatriyan terbentur dinding” atau “Mama pergi kerja dulu ya, nanti malam mama pulang”. Selain itu, saya juga rutin membacakan dia buku cerita. Nah soal buku cerita ini, kita harus pintar-pintar mengubah naskah atau teks buku cerita menjadi percakapan yang lebih menarik dan mudah dimengerti oleh anak. Contoh jika di buku cerita terdapat naskah “si gajah merasa sangat kedinginan dan mulai menggigil”, maka saya akan merubahnya atau menambah teksnya menjadi “haduh, di sini dingin sekali bbbbrrrrr….”. Ia pun akan tertawa dan meniru cara saya mengucapkan kata “Bbbbrrr”.

Selain bercerita melalu media buku, saya juga suka menceritakan gambar wall sticker yang ada di dinding kamar kami. Wall sticker itu memiliki gambar kereta yang mengangkut sejumlah binatang seperti anjing, kuda nil, jerapah, dan sapi. Kereta itu didorong oleh seorang anak bayi yang sedang ngempeng. Kadang saya menciptakan alur cerita dan dialog-dialog yang relevan dengan gambar tersebut. Anak saya luar biasa menyukai metode ini. Tak jarang dia menarik tangan saya untuk duduk menghadap dinding dan menceritakan mengenai gambar di dinding itu kembali. Mendongeng tanpa media apapun juga tidak masalah buat saya, malah cara ini seringkali efektif untuk menenangkan dia saat dia menangis atau terlalu sibuk berlari kesana-kesini.

saya juga suka bertanya pada anak saya mengenai rutinitasnya sehari-hari saat saya pergi bekerja. Terkadang jawaban yang ia berikan nyambung kadang tidak nyambung atau asal jawab. Tidak masalah, yang penting ia mengerti bahwa komunikasi itu berjalan dua arah dan membutuhkan aksi dan reaksi. So far, I’m so proud of him and what I’ve done. Mungkin ada yang mau share soal kemampuan bicara si kecil?, monggo ditunggu komennya yah!.

Ketika GTM Melanda!

Saya panik!

Saya termenung meratapi growth chart Kshatriyan yang tiba-tiba jalan di tempat. What happen nak?. Kshatriyan memang tidak gendut seperti bayi-bayi masa kini (tubuhnya langsing seperti mamanya, hehehehe). Saya coba review dan ingat-ingat, mengapa ini bisa terjadi kepada anak saya.

Okeey, saya sedih harus memulai poin pertama dengan “Kata Mbaknya Kshatriyan” makan Kshatriyan ini bagus, lahap dan banyak lep, lep, lep. Makan 3 hari sekali, diberi selingan buah dan susu. Anyway, pas wiken saya suapi dia, nyatanya anak saya GTM (gerakan Tutup Mulut) cenderung mengamuk melihat piring. Padahal saya sudah coba kasih dia makan sesuai jadwal si Mbak kasih makan.

Lalu saya mereview cara si mbak kasih dia makan. Dia lebih sering kasih anak saya makan dengan cara digendong. No way!, saya tidak akan memilih cara memberi makan seperti ini. There must be something wrong with the method. Masa setiap kali saya kasih makan dia harus digendong?.

Lalu si Mbak saya yang berasa Maha Sakti Mengurus Anak itu berkata “banyak kok cuma harus sabar, bisa sejam kasih makannya”. Saya melongo. Oke, mungkin saya yang kurang sabar.

Ada berbagai faktor mengapa GTM terjadi:

  1. Salah timing kasih makan, anak belum lapar tapi dipaksa makan
  2. Anak sedang sakit bisa karena flu, alergi, teething dan lain-lain
  3. Anak pilih-pilih makanan atau picky eater
  4. Anak trauma karena sering dipaksa kasih makan sama orang tua
  5. Anak memiliki kemampuan mengunyah yang buruk (akibat kegagalan tahapan mpasi di masa lalu)

Saya mulai mempergiat ilmu googling dan you-tube saya. Ketemulah saya sama video seminar dokter anaknya dokter Tiwi. Beliau banyak memberi materi seputar MPASI. Saya pun mulai donlod dan nonton you tube-nya dengan menggebu-gebu.

Berikut adalah ilmu yang saya dapat:

1. Beri anak makan saat dia lapar, saat lapar bayi biasanya menunjukkan tanda responsive feeding atau secara inisiatif membuka mulut untuk makan tanpa dipaksa.

Pengalaman saya selama mudik dan full ngurus anak, saya tidak pernah sukses kasih Kshatriyan makan di jam yang sama dengan jadwal Mbak ART saya kasih makan anak saya. Makan pagi versi ART saya adalah jam 7 pagi, sedangkan saat bersama saya dia baru menunjukkan responsive feeding sekitar jam 8-9 pagi hari begitu pula dengan makan siang (versi art jam 12 sedangkan versi saya jam 2 siang) dan makan malam (versi art jam 5 sore, versi saya bisa jam 8 malam). Selama interval waktu makan, anak bisa diberi buah, camilan dan jus selama tidak mepet dengan jadwal makan berikutnya.

2. Saat anak menolak, jangan dipaksa beri lagi selang 2-3 jam. Karena memaksa makan bisa menimbulkan trauma.

Ini butuh ketabahan ya moms, karena di otak kita harus ada reminder berbunyi “kasih anak makan” dan agak sedikit buang-buang lauk or mubazir. Untuk mencegah makanan terbuang, biasanya saya simpan di dalam rice cooker atau mamanya yang makan sekalian. Hahahaha..

Nah, jeleknya nih anak saya picky eater banget. Dia tipe bayi yang terpikat dengan packaging makanan. Dia sering pura-pura menolak makanan, tapi pas saya rada paksa (maaf ya nak) hanya untuk suapan pertama, ternyata dia doyan dan suapan selanjutnya LANCAR JAYA. Rupanya dia harus nyicip dulu baru percaya bahwa makanan yang disajikan rasanya enak.

Pesan moral: jangan ikuti adegan maksa makannya ya mom, mungkin masakan saya kurang terlihat menarik

3. Makan tidak boleh lebih dari 20 menit, jangan di depan tv (karena anak cenderung ngango dan gak punya sensor kenyang,) dan kalau memungkinkan dudukkan di high chair

Ini saya sudah gagal total, karena dari awal pemberian mpasi sama si mbak sudah sambil digendong, sementara sama mama-papa diajak keliling naik stroller atau sambil mainan or eksplorasi di lantai (kshatriyan gak betah berlama-lama di high chair). Nah kalau sambil eksplorasi gitu seringkali dia masih minat disuapi (tidak menolak) tapi karena sambil main jadinya lupa ngemut dan waktu habis untuk mondar-mandir (jadi susah dok kalau mau 20 menit). Terlebih kalau suapan mamanya oversize (ngunyahnya jadi lama).

4. Menu HARUS bervariasi

yes! ini kunci dari keGTMan Kshatriyan. Dia sudah terkontaminasi makanan gurih, sehingga cenderung suka makanan apa yang kita orang dewasa anggap sebagai enak (soto mi bogor, semur, rendang, tongseng), jadi kalau rasa makanan agak hambar Kshatriyan akan menolak makan dan kembali GTM.

Herannya Kshatriyan TIDAK pernah menolak telor. So, si dokter bilang baiknya kita siapkan dua jenis menu (menu baru sebagai pengenalan rasa dan menu yang sudah pasti dia suka)

Jangan serahkan urusan masak memasak makanan bayi ke pengasuh, karena tidak ada cinta yang melebihi cinta ibu ke anaknya (hehehehe). Jadi sebloon-bloonnya saya masak, saya tetap berjuang bikin makanan enak dan bervariasi.

5. Pelajari growth chart dengan baik

kurva tumbuh berat badan harus naik, jika memotong turun 2 garis maka anak dikatakan gagal tumbuh

6. Pastikan anak tidak anemia/ kurang zat besi, karena bisa mempengaruhi berat badan dan nafsu makan anak

7. Waktu makan harus fun! harus penuh nyanyi-nyanyi dan kasih sayang

Next, saya googling lagi dan cari video lain yang bisa menambah ilmu saya. Dapatlah saya video lain Dokter Tiwi featuring Dokter Reza Gunawan. Saya belajar cara pijat bayi untuk merangsang titik-titik di tubuh yang dianggap berpengaruh terhadap sistem pencernaan sehingga nafsu makan bisa terus terjaga.

Mari berjuang bersama-sama melawan GTM moms, singsingkan lengan, perdalam ilmu masak-memasak dan ilmu mpasi, banyak bersabar dan jangan menyerah. Badai pasti berlalu!

Hehehe.

 

 

 

 

 

 

 

Mudik bersama si kecil

It’s mudik time!

Lebaran kali ini, kami akan mudik ke kampung halaman ibu mertua saya, yaitu Ngawi. Alhamdulillah saya mendapat tiket pesawat pp gratis (sogokan bapak mertua supaya mau ikut mudik) untuk mudik kali ini. Hmmm..sebenarnya ini mudik pertamanya Kshatriyan sih.. so, saya sedikit kuatir melakukan ke’clumsy’an saya yang tiada akhir ini.

Jalan-jalan sama bayi itu memang rada heboh, perlu sedikit perenungan tentang apa-apa yang harus dibawa dan dilakukan supaya mencegah anak menjadi rewel di perjalanan. Berikut sedikit kilas balik cerita kerempongan travel mudik kami:

1. Koper besar + cabin backpack

koper ekstra besar berisi baju saya, suami dan anak (ukuran koper silahkan disesuaikan dengan tingkat kelebaian masing-masing orang tua dalam mempersiapkan baju anaknya, hehehe). Koper ini berisi antara lain:

  • Baju anak: terdiri dari baju dinas (baju berbahan adem supaya bisa beradaptasi dengan panasnya udara di Ngawi sana), celana pendek, baju tidur, singlet, T-shirt buat mejeng atau berpergian, celana panjang/pendek untuk berpergian, jumpsuit/sleepsuit untuk berpergian di malam hari (jadi kalau ketiduran gak perlu ganti piama lagi)
  • Diapers or pospak: sehari kurang lebih 4-5 buah dan training pants
  • Handuk mandi
  • Toiletris (Kshatriyan tidak bawa bak karet atau baby bather karena sudah bisa mandi dengan berbagai gaya) dan jangan lupa minyak telon dan washlap
  • lotion anti nyamuk dan sunblock (jika diperlukan)
  • termometer dan obat penurun panas (untuk jaga-jaga)
  • peralatan makan (piring, mangkok, sendok, gelas)
  • Sabun cuci piring (sedikit aja, bisa dituang ke wadah lain)
  • Tupperware isi bahan-bahan makanan (just in case di rumah eyang tidak tersedia)
  • Ice bag dan ice gel, tidak lupa pompa ASI (harus tetap pumping)
  • Sepatu dan kaus kaki bayi (bawa sepatu sebaiknya lebih dari 1, just in case kalau teledor dan tanpa sengaja terlepas dan tertinggal di pesawat atau di bandara)
  • susu UHT

Nah soal bahan makanan, saya memesan ke katering bayi langganan frozen foods (Beef patties, chicken tofu, seafood nugget organic), dll supaya lebih praktis. Lalu saya juga bawakan sayuran (brokoli, wortel impor, buncis, tomat) yang semuanya saya letakkan di dalam ziplock dan saya letakkan di dalam ice bag ASIP dan ditanmbah ice gel supaya tetap segar. Saya juga membawa 1 botol kecil minyak zaitun untuk menggoreng dan saus botol asam manis.

Kalau kita mudik ke kampung, mungkin harus diperhatikan apakah disana ada peralatan memasak yang cukup bersih dan memadai (kalau untuk emak bapaknya sih pake wadah masak apa aja bablas aja). Tapi kalau dapurnya kurang higienis, mungkin harus dipertimbangkan membawa sabun cuci piring dan spons sendiri. Pengalaman saya di rumah eyang itu dapurnya ugal-ugalan banget (campur aduk karena keseringan masak), jadi susah cari panci teflon bersih apalagi spons cuci piringnya udh memprihatinkan dan seperti sudah dipakai ribuan kali (hehehe, emak-emak drama)

2. Backpack berisi barang-barang persiapan di perjalanan selama 1 hari

untuk backpack, saya mengemas pakaian cadangan untuk 1 hari perjalanan, selimut tipis, jaket, bekal makanan jadi untuk 1 hari perjalanan (nasi dan roti), susu UHT, biskuit, buah potong, termos air putih, tisu basah, toiletris simple buat cebok, tisu kering, ear plug dan pastinya BANYAK mainan. Bisa juga ditambah gadget bagi yang anaknya suka gadget.

Oh ya, saran saya be prepare sama yang namanya delay. You know lah saat lebaran berapa banyak penerbangan dalam sehari. siapkan alas tidur yang nyaman dan kalau bisa manfaatkan promo executive lounge dari credit card rewards. Saya beruntung bisa dapet tempat di garuda lounge walaupun naik pesawat non-garuda. Di lounge ini, makanan dan minuman disediakan terus-menerus. Jadi delay yang lama tidak membuat anda bingung dengan bolak-balik beli makanan.

when delay happened, saya membiarkan anak saya bereksplorasi merangkak ria di pojok ruang tunggu yang rada lowong dan bermain bersama anak sebayanya. Cara ini ampuh untuk menjaga mood dia selama di Bandara walaupun dalam kondisi delay yang sangat membosankan ini. Jangan lupa terus tawarkan makanan dan minuman walaupun dalam porsi kecil.

Berhubung saya naik pesawat yang pagi sekali, jadi Kshatriyan harus sarapan di bandara. Proses makan sedikit terbantu dengan banyaknya pesawat di luar jendela ruang tunggu (untuk mengalihkan perhatian). Jika anak masih enggan untuk makan berat, bisa ditawarkan biskuit atau buah potong.

Belajar dari kesalahan saat travel dengan pesawat pertamanya satrian waktu ke Bali dulu, saya berkesimpulan bahwa mainan dan makanan adalah faktor kunci menjaga mood anak selalu baik selama di pesawat. Ingat, bukan mainan bagus dan mahal ya moms, tapi mainan yang paling membuat dia betah fokus berlama-lama memainkan mainan tersebut. Kshatriyan paling suka buka-tutup botol lotion, sedotan, buka tutup spidol, dan pastinya buku dan mobil-mobilan. Semua mainan saya taro dalam ziplock supaya gak mencar-mencar dan gampang diambil saat berada dalam pesawat. Usahakan, jangan memamerkan atau ekspos semua mainan yang anda miliki ke anak anda sebelum masuk ke pesawat, kenapa? supaya mereka tidak terlanjur bosan dengan mainan tersebut. Buat mereka sedikit surprise dengan mainan yang anda siapkan untuknya.

Yes!, alhamdulillah saat di pesawat mainan ini ampuh menangkal tantrum satrian saat pesawat belum take off (periode siap-siap ini biasanya buat anak boring dan ngamuk). Kshatriyan sibuk dengan tutup spidol dan balok susunnya). Tidak lama setelah pesawat take off, Kshatriyan asik melihat pemandangan di luar jendela pesawat, menirukan suara pesawat yang sedang terbang, dan bahkan menirukan suara bel notifikasi cabin crew pesawat. Hahahaha.. saat pesawat agak terguncang, dia malah menikmati guncangan dan pulas tertidur sambil nenen (the power of nenen).

sayangnya, saat perjalanan pulang kembali ke Jakarta satrian sempat menangis karena sakit telinga (walaupun sudah pakai earplug). Untung bisa diobati dengan lagi-lagi nenen!

Semoga tulisan ini bermanfaat ya moms, please comment, tanya, ataupun share seputar topik mudik bersama anak. I will happily respond!

 

Kshatriyan 1st birthday!

Tanggal 3 Juni kemarin, Kshatriyan genap 1 tahun. Saya dan suami memiliki misi mengajak dia bersenang-senang rather than kasih kado (walaupun akhirnya dikasih kado juga ahahahaha emak2 latah belanja). Berhubung tanggal 2 Juni tanggal merah dan tanggal 1 nya jatuh di hari senin, saya dan suami cuti di tanggal 1 dan 3 supaya bisa dapet super long wiken.
Berikut adalah rekam jejak ulang tahun si bayi:
No party or celebration karena anaknya juga belum ngerti kan yaa… Tapi lagi-lagi karena emaknya latah dengan semua kelucu-lucuan yang berhubungan dengan bayi, jadilah saya memesankan bento karakter sebanyak 20 pax untuk dibagiin ke sodara-sodara. Karakter yang dipilih adalah Cars sesuai dengan kesenangan Kshatriyan. Saya pesan bentonya di catering bayi di sekitar lokasi tempat tinggal saya. Harganya 30,000 per pax.
Untuk acara jalan-jalan cerianya, saya dan suami mengajak dia ke beberapa tempat main dalam waktu kurun waktu 3 hari libur sebagai berikut:

1. The Miniz, Pondok Indah Mall 2

image

Kalau yang ini karena Papanya lagi suntuk dan pengen ngemol. Lokasi depan toko mainan edukasi ELC. Harga tiketnya sebesar 50,000 per anak. Ini memang arena main khusus baby atau toddler yang belum terlalu ‘brutal’ cara mainnya. Areanya cukup luas full karpet dan pelindung untuk melindungi bayi dari benturan. Sarana bermainnya adalah motor-motoran, terowongan, perosotan ukuran mini, dan undakan atau panjat-panjatan yang terbuat dari rubber/karet untuk merangsang kemampuan motorik anak. Jangan lupa kalau kesini bawa kaus kaki yaaah..supaya gak usah beli lagi!

2. Kebun Raya Bogor
Sebenernya niat kita ke hamparan rumput yang luas untuk dia jalan or lari-larian. Tapi berhubung dia belum bisa jalan di usia 1 tahunnya, jadilah kita biarkan dia merangkak ceria di hamparan rumput. Ternyata dia seneng banget loh.

image

3. The Giggle, FX
Terletak di lantai 5 kawasan mall Fx Jakarta. Kombinasi dari playground dan taman bermain air indoor pertama di Indonesia. Tiket masuk non member adalah 120,000 per anak dan 30,000 untuk pendamping dewasa. Tiket ini bersifat one day pass. Jadi kita bisa keluar masuk kapan saja tanpa harus membayar lagi.

image

Areanya cukup luas walaupun menurut saya sarana bermainnya masih kurang fun dan harus ditingkatkan. Untuk bayi, kita bisa mengunjungi area little zoo yang bisa digunakan bayi untuk merangkat, memanjat undakan, menjelajahi terowongan, berseluncur di perosotan ukuran kecil, atau mandi bola. Untuk kakak-kakak yang lebih besar, bisa main trampoline, naik mobil-mobilan, main marry go round dan lari-larian di lorong dan seluncuran kolam bola yang berukuran besar.

Awalnya saya rada syok dan bête karena area main bayi dijajah sama anak-anak yang sudah bisa lari-larian dan main sepeda-sepedaan dengan ‘brutal’ jadi kita harus mengawasi anak dengan ekstra ketat. Untung tiketnya one day pass, jadi bisa tunggu sampai agak ‘sepian’. Saya pun tanya ke petugas apakah area mandi bola yang berukuran besar bisa dimasuki oleh orang dewasa. Yes!, si mas-mas penjaga bilang boleh bahkan orang dewasa boleh ikut naik ke bagian atas area mandi bola. Jadi saya bisa mengawasi Kshatriyan main di area main bola. Area ini sepi dari kakak-kakak brutal, karena kakak-kakak fokus berseluncur dan lari-larian di bagian atas kolam bola.

Jempol saya ancungkan tinggi-tinggi karena Giggle punya nursery room yang sangat nyaman. Jadi saya gak perlu keluar masuk area bermain untuk menyusui dia. Toilet untuk mandi dang anti baju anak setelah bermain di area main air juga nyaman dan jumlahnya banyak. Yippie

Nah Kshatriyan ternyata paling excited sama area main airnya. Dia menjerit-jerit kesenangan bermain air mancur bareng kakak-kakak yang udah gedean. Alhasil, waktu saya gendong untuk menyudahi permainan, dia langsung nangis!. Maaf ya Nak, mama takut kamu masuk angin kalau kelamaan.

*Kalau mau kesini jangan lupa juga bawa kaus kaki, baju renang anak, baju ganti anak dan orangtua lengkap yaaa…

4. Main di rumah nenek yang punya halaman luas sambil undang sodara-sodara yang punya anak kecil (tapi bukan untuk perayaan ultah pake MC dan kue ultah plus lilin gitu), Cuma untuk kumpul bocah saja. Supaya lebih menghibur, saya bawa kolam renang plastik ukuran besar dan tenda terowongan supaya anak-anak kecil bisa bersenang-senang.

Eniwei, semoga menginsipirasi liburan mama/mami/bunda semua yaa..Have fun!

My life after having a baby.

Kalau ditanya bagaimana kehidupan saya setelah punya anak, saya akan menjawab kalau saya menjadi lebih disiplin. Bagaimana tidak? Saya harus bangun di pagi hari karena anak saya sudah melek dari subuh. Saya tidak mau ia menyelinap dan terjatuh dari kasur. Selain itu, saya juga membiasakan diri memompa ASI di pagi hari walaupun mata terasa berat.

Saat weekend, saya tidak bisa berleha-leha seperti dulu. Sebelum punya anak saya bisa tidur sampai puas dan mandi siang-siang. Setelah punya anak, pagi hari saya sudah berkutat di depan kompor untuk membuatkan si kecil sarapan dan menyuapi dia. Dilanjutkan dengan memandikan dia. Selesai sarapan saya minta tolong papanya untuk membawa dia jalan-jalan sebentar, sementara saya mandi pagi dan beres-beres. Setelah rapih, baru saya siap untuk nursing time dan ngelonin dia bobo.

Hari kerja setelah Kshatriyan ditinggal pengasuh dan masuk daycare juga lebih challenging. Kalau biasanya ada ART, saya bisa berangkat siangan naik motor bareng suami. Sejak anak saya masuk daycare, kita berangkat naik mobil masuk tol dan keluar dekat ragunan (karena daycare dekat tol dan kantor suami di simatupang). Saya lanjut dengan ngantri transjakarta sampai kuningan. Sebagai catatan dulu sebelum punya anak saya anti naik kendaraan umum apapun jenisnya dan lebih memilih terjebak macet mengendarai mobil pribadi. Sekarang saya mengutuk cara berpikir saya yang bodoh, buang-buang waktu dan uang itu. Hidup kendaraan umum!

Pulang kerja saya harus tenggo karena takut kena overtime daycare. Hehehehe.. kadang saya jalan kaki lebih jauh untuk menghindari perempatan kuningan yang macet dasyat. Belakangan saya memaksa kemampuan jalan kaki saya lebih jauh dari biasanya untuk menyiasati kemacetan dan mengirit ongkos di saat2 sulit.

Since punya anak berarti menambah biaya idup, saya harus harus dan harus bawa bekal ke kantor. At least bawa nasi supaya bisa ngirit. Hahahaha.. saya juga memaksa diri saya untuk tidak jajan bakery  atau sejenis bread yang mahal2 itu. Sebagai gantinya, saya beli roti tawar yang gandum (bisa untuk beberapa hari) dan dicampur dengan kacang hijau homemade (lebih sehat dan mengenyangkan), walau kadang ngiler liat temen kantor beli mie ayam (ngelap iler).

Jadi orang tua juga memaksa saya untuk banyak belajar mulai dari gizi, kesehatan, psikologi, tumbuh kembang, dll. Saya juga barus menjaga sistem keselamatan di rumah (seperti colokan listrik dll) demi mengamankan anak saya dari potensi bahaya. Saya juga sering ngubek-ngubek toko buku bekas untuk mendapatkan buku parenting impor atau majalah parenting dengan harga yang jauh lebih murah.

Gimana kehidupan mama atau bunda lain setelah punya anak?. I can say I’m a better person now. My son has changed me as a person. I love you, Nak thanks for changing my life.

Cerita Daycare

Sudah tiga hari ini Kshatriyan saya titipkan di daycare yang berlokasi di komplek Pekerjaan Umum (PU), Jalan Raya Veteran Bintaro dengan nama Daycare First Rabbit. Alasannya klasik, yaitu masalah Asisten Rumah Tangga (ART) yang belakangan sering berhalangan masuk. Karena saya tidak bisa bolos kerja terus menerus, saya membulatkan tekad mendaftarkan Ia ke Day Care.

Faktor utama yang menjadi pertimbangan memilih Daycare adalah lokasi. Saya dan suami harus mengantarkan anak saya pagi-pagi dengan membawa kendaraan pribadi sebelum ke kantor, sehingga lokasi daycare harus searah dengan jalur kami berdua ke kantor. Faktor-faktor lain adalah adalah kenyamanan tempat, fasilitas yang diberikan, harga, dll.

Pengelola daycare ini adalah pasangan suami-istri yang sangat ramah. Mereka menjelaskan bahwa first rabbit menerima peserta daycare dari usia 0 bulan hingga 5 tahun. Menurut mereka, saat ini peserta muda yang mereka asuh berusia 7 hari. Daycare mulai beroperasi dari mulai jam 6.30 pagi (jadi tidak bisa menitipkan anak lebih pagi dari jam tersebut yaah). Mereka pun mengajak saya melihat seluruh ruangan daycare sambil menjelaskan fasilitas dan program yang mereka miliki.

Dayacare ini menerima peserta baik untuk harian maupun bulanan. Biaya bulanannya adalah 2.600.000 dengan biaya overtime 10.000/15 menit. Biaya tersebut sudah termasuk catering setiap harinya. Rasio pengasuh dan anak yang diasuh adalah 1:2-3 tergantung kebutuhan.

Ruangan daycare sangat bersih dan terawat. Seluruh ruangan dihiasi dengan pengaman benturan seperti matras dan busa di seluruh dinding. Selain itu, juga terdapat pagar pengaman bayi yang mencegah bayi dan balita untuk memasuki area dapur dan luar rumah. Dapur yang ada di sana merupakan dapur bersih yang tidak difungsikan untuk memasak. Seluruh aktifitas memasak dilakukan di rumah pemilik daycare yang terletak persis di belakang daycare. Terdapat juga fasilitas freezer ASIP, kamera CCTV, mainan perosotan, dll. Kamar tidur bayi dipisahkan dengan kamar tidur balita. Untuk bayi yang belum bisa merangkak, disediakan boks bayi. Sedangkan untuk bayi yang sudah bisa merangkak tersedia matras busa (seperti matras yang dipasang pada boks bayi).

Untuk program hariannya, terdapat kelas baby dan kelas anak. Ruang aktivitasnya pun dipisah. Bayi boleh ikut serta dalam kegiatan di kelas balita seperti bernyanyi, art, cooking class, dll selama didampingi oleh nanny. Untuk bayi kegiatannya adalah stimulasi motorik, warna, musik, dll. Setiap aktivitas dipimpin oleh para miss (teacher). What I like is, nannynya sangat educated (terlihat dari cara bicaranya dan caranya menjelaskan). Bahasa yang digunakan sepertinya adalah bilingual (karena susternya beberapa kali bicara dengan anak saya dengan perintah sederhana dalam bahasa inggris seperti stand up, dll).

Para ortu bisa memantau aktivitas anak mereka dengan menggunakan gadget (ponsel saya diinstalkan aplikasi yang bisa memantau aktivitas anak saya secara real time hampir disetiap sudut ruangan). Selain itu, saat menjemput kita bisa membaca laporan harian berisi informasi anak seperti informasi makanan, konsumsi ASIP, BAB, mood, aktivitas, suhu dan berat badan. Day care ini juga sangat PRO ASI. Mereka mendukung pemberian asi perah melalui media non dot. Selain itu, pemilik juga menanyakan hasil pumping saya per harinya, karena mereka berprinsip hasil perahan ibunya harus sama dengan jumlah konsumsi asip per hari. Saya langsung bersemangat mendengarnya mengingat sama si mbak kemarin konsumsi asipnya jauh lebih tinggi dari yang saya hasilkan.

Anywaaay..Kshatriyan masih suka drama kalau berpisah sama mama-papanya. Dia menangis bahkan menjerit-jerit waktu saya tinggal. Sungguh gak tega rasanya. Tapi saya yakin dia lebih baik dititip di daycare daripada bersama si mbak karena punya banyak teman dan kesempatan bersosialisasi.

Siangnya, saat saya pantau di cctv, dia sudah asik bermain bersama teman-temannya. Susternya bilang dia Cuma nangis kalau mau bobo saja dan juga happy kalau diajak aktivitas di child class. Saat saya jemput, surprisingly moodnya sangat bagus dan mukanya terlihat happy. Dia pun tidak berhenti mengoceh sepanjang jalan menuju rumah. Oooowh…I’m so proud of you baby!

MPASI nya Kshatriyan.

Alohaa..sudah lama saya tidak nulis di blog ini, maklum akhir tahun banyak closing kerjaan. Tidak terasa sudah 6 bulan usia si baby boy ini. Saatnya si kecil mulai belajar makan. Perasaan panik mulai melanda akibat merasa kurang ilmu soal per mpasian ini.

Berbekal ilmu kebut sebulan dan tidak lupa membaca bismillah saya memulai mpasi untuk Kshatriyan di usianya yang genap 180 hari. Bermodalkan kalender dan kalkulator sayur, saya menghitung bahwa 180 hari nya Kshatriyan itu jatuh di tanggal 30. Kurang 3 hari dari tanggal lahirnya.

Lucunya lagi, saat tanggal yang sudah saya nanti-nantikan itu datang, saya, Kshatriyan, dan si papa lagi ada di Bali. Kalau lagi travelling begini enaknya nih anak dikasih makan apa, yah?? Pikir saya waktu itu. 

Karena dari awal saya sudah memutuskan jadi ibu yang setengah idealis saja alias kasih si kecil makanan home made kalau di rumah dan makanan instan saat travelling, maka saya membawa outmeal dan cereal yang merek Gerber beserta tempat makannya.

Dan..hari itu datang juga, saya mix si outmeal itu pakai asip. Jeng jeng jeng..ternyata dia nggak doyan pemirsa. Serealnya langsung dilepeh sama dia. Hahahaha..yasudah, saya gak paksakan dan ajak dia jalan-jalan saja.

Waktu makan siang di restoran, saya pesan jus alpukat tanpa gula,susu, dan es batu. Iseng iseng saya kasih seujung sendok ke lidahnya. Surprise ternyata dia suka banget loh..saking semangatnya dia sama si jus alpukat ini sampai-sampai dia ambil sendok dari tangan saya dan dia suap ke mulutnya sendiri. Oalah naaak…

Well, walaupun mpasi pertama kamu rada kurang prepare.. sekarang mama lebih serius nyiapin makanan kamu, Nak. Makanan kamu selanjutnya adalah gasol beras merah. Ternyata kamu nggak suka kalau gasolnya dicampur asip. Jadi anak ini maunya disuapi sesendok gasol disusul dengan sesendok asip, bukan gasol dan asip dalam satu mangkok digabungkan. Alhamdulilah, kamu antusias makan gasolnya.

Hari-hari berikutnya menu mpasi anak saya semakin bervariasi. Gasol campur kaldu daging, gasol campur brokoli dan wortel, gasol campur puree bayam, puree jagung, labu kuning, dll. Sempat sembelit waktu saya bikinin puree kentang dan tahu putih. Patokan saya adalah selalu tanya si mbak bagaimana tekstur pup nya kalau perlu liat pampers bekasnya (agak jorok sih). Selama pupnya terlihat normal dan tidak bulat2 mengeras.. I consider that he is just fine.

Sekarang saya masih ubek2 resep mpasi lain dan berusaha mengenalkan jenis makanan-makanan baru ke anak saya. Hopefully dia suka dan tambah sehat ya naaak.