Ketika GTM Melanda!

Saya panik!

Saya termenung meratapi growth chart Kshatriyan yang tiba-tiba jalan di tempat. What happen nak?. Kshatriyan memang tidak gendut seperti bayi-bayi masa kini (tubuhnya langsing seperti mamanya, hehehehe). Saya coba review dan ingat-ingat, mengapa ini bisa terjadi kepada anak saya.

Okeey, saya sedih harus memulai poin pertama dengan “Kata Mbaknya Kshatriyan” makan Kshatriyan ini bagus, lahap dan banyak lep, lep, lep. Makan 3 hari sekali, diberi selingan buah dan susu. Anyway, pas wiken saya suapi dia, nyatanya anak saya GTM (gerakan Tutup Mulut) cenderung mengamuk melihat piring. Padahal saya sudah coba kasih dia makan sesuai jadwal si Mbak kasih makan.

Lalu saya mereview cara si mbak kasih dia makan. Dia lebih sering kasih anak saya makan dengan cara digendong. No way!, saya tidak akan memilih cara memberi makan seperti ini. There must be something wrong with the method. Masa setiap kali saya kasih makan dia harus digendong?.

Lalu si Mbak saya yang berasa Maha Sakti Mengurus Anak itu berkata “banyak kok cuma harus sabar, bisa sejam kasih makannya”. Saya melongo. Oke, mungkin saya yang kurang sabar.

Ada berbagai faktor mengapa GTM terjadi:

  1. Salah timing kasih makan, anak belum lapar tapi dipaksa makan
  2. Anak sedang sakit bisa karena flu, alergi, teething dan lain-lain
  3. Anak pilih-pilih makanan atau picky eater
  4. Anak trauma karena sering dipaksa kasih makan sama orang tua
  5. Anak memiliki kemampuan mengunyah yang buruk (akibat kegagalan tahapan mpasi di masa lalu)

Saya mulai mempergiat ilmu googling dan you-tube saya. Ketemulah saya sama video seminar dokter anaknya dokter Tiwi. Beliau banyak memberi materi seputar MPASI. Saya pun mulai donlod dan nonton you tube-nya dengan menggebu-gebu.

Berikut adalah ilmu yang saya dapat:

1. Beri anak makan saat dia lapar, saat lapar bayi biasanya menunjukkan tanda responsive feeding atau secara inisiatif membuka mulut untuk makan tanpa dipaksa.

Pengalaman saya selama mudik dan full ngurus anak, saya tidak pernah sukses kasih Kshatriyan makan di jam yang sama dengan jadwal Mbak ART saya kasih makan anak saya. Makan pagi versi ART saya adalah jam 7 pagi, sedangkan saat bersama saya dia baru menunjukkan responsive feeding sekitar jam 8-9 pagi hari begitu pula dengan makan siang (versi art jam 12 sedangkan versi saya jam 2 siang) dan makan malam (versi art jam 5 sore, versi saya bisa jam 8 malam). Selama interval waktu makan, anak bisa diberi buah, camilan dan jus selama tidak mepet dengan jadwal makan berikutnya.

2. Saat anak menolak, jangan dipaksa beri lagi selang 2-3 jam. Karena memaksa makan bisa menimbulkan trauma.

Ini butuh ketabahan ya moms, karena di otak kita harus ada reminder berbunyi “kasih anak makan” dan agak sedikit buang-buang lauk or mubazir. Untuk mencegah makanan terbuang, biasanya saya simpan di dalam rice cooker atau mamanya yang makan sekalian. Hahahaha..

Nah, jeleknya nih anak saya picky eater banget. Dia tipe bayi yang terpikat dengan packaging makanan. Dia sering pura-pura menolak makanan, tapi pas saya rada paksa (maaf ya nak) hanya untuk suapan pertama, ternyata dia doyan dan suapan selanjutnya LANCAR JAYA. Rupanya dia harus nyicip dulu baru percaya bahwa makanan yang disajikan rasanya enak.

Pesan moral: jangan ikuti adegan maksa makannya ya mom, mungkin masakan saya kurang terlihat menarik

3. Makan tidak boleh lebih dari 20 menit, jangan di depan tv (karena anak cenderung ngango dan gak punya sensor kenyang,) dan kalau memungkinkan dudukkan di high chair

Ini saya sudah gagal total, karena dari awal pemberian mpasi sama si mbak sudah sambil digendong, sementara sama mama-papa diajak keliling naik stroller atau sambil mainan or eksplorasi di lantai (kshatriyan gak betah berlama-lama di high chair). Nah kalau sambil eksplorasi gitu seringkali dia masih minat disuapi (tidak menolak) tapi karena sambil main jadinya lupa ngemut dan waktu habis untuk mondar-mandir (jadi susah dok kalau mau 20 menit). Terlebih kalau suapan mamanya oversize (ngunyahnya jadi lama).

4. Menu HARUS bervariasi

yes! ini kunci dari keGTMan Kshatriyan. Dia sudah terkontaminasi makanan gurih, sehingga cenderung suka makanan apa yang kita orang dewasa anggap sebagai enak (soto mi bogor, semur, rendang, tongseng), jadi kalau rasa makanan agak hambar Kshatriyan akan menolak makan dan kembali GTM.

Herannya Kshatriyan TIDAK pernah menolak telor. So, si dokter bilang baiknya kita siapkan dua jenis menu (menu baru sebagai pengenalan rasa dan menu yang sudah pasti dia suka)

Jangan serahkan urusan masak memasak makanan bayi ke pengasuh, karena tidak ada cinta yang melebihi cinta ibu ke anaknya (hehehehe). Jadi sebloon-bloonnya saya masak, saya tetap berjuang bikin makanan enak dan bervariasi.

5. Pelajari growth chart dengan baik

kurva tumbuh berat badan harus naik, jika memotong turun 2 garis maka anak dikatakan gagal tumbuh

6. Pastikan anak tidak anemia/ kurang zat besi, karena bisa mempengaruhi berat badan dan nafsu makan anak

7. Waktu makan harus fun! harus penuh nyanyi-nyanyi dan kasih sayang

Next, saya googling lagi dan cari video lain yang bisa menambah ilmu saya. Dapatlah saya video lain Dokter Tiwi featuring Dokter Reza Gunawan. Saya belajar cara pijat bayi untuk merangsang titik-titik di tubuh yang dianggap berpengaruh terhadap sistem pencernaan sehingga nafsu makan bisa terus terjaga.

Mari berjuang bersama-sama melawan GTM moms, singsingkan lengan, perdalam ilmu masak-memasak dan ilmu mpasi, banyak bersabar dan jangan menyerah. Badai pasti berlalu!

Hehehe.