Si ceriwis!

Hari ini saya mau sharing mengenai kemampuan bicara anak saya di usia 1 tahun 6 bulan. Saya menganggap kemampuan bicara adalah aspek yang sangat penting untuk dikejar progressnya, karena jika kemampuan bicaranya masih terlalu sedikit ia akan menjadi emosional saat keinginannya tidak tersampaikan dengan baik. Namun harus diingat, bahwa melatih bicara harus sesuai dengan kemampuan belajar dan usia anak jadi sifatnya tidak dipaksakan. Sampai saat ini Kshatriyan sudah bisa melafalkan 60 kata. Setiap kata baru yang ia ucapkan membuat saya tersenyum atau bahkan tertawa karena begitu bangga mendengarnya. Iseng saya google, anak berusia 18 bulan sudah mampu mengucapkan 20-50 kata.

Untuk mengembangkan kemampuan bicaranya, saya selalu rutin mengajaknya bicara dengan kalimat yang lengkap (subjek, predikat, objek) dan dengan menggunakan bahasa Indonesia EYD contohnya “Kshatriyan pakai sandal dulu ya” atau “Kshatriyan hati-hati yah mainnya, nanti kepala kshatriyan terbentur dinding” atau “Mama pergi kerja dulu ya, nanti malam mama pulang”. Selain itu, saya juga rutin membacakan dia buku cerita. Nah soal buku cerita ini, kita harus pintar-pintar mengubah naskah atau teks buku cerita menjadi percakapan yang lebih menarik dan mudah dimengerti oleh anak. Contoh jika di buku cerita terdapat naskah “si gajah merasa sangat kedinginan dan mulai menggigil”, maka saya akan merubahnya atau menambah teksnya menjadi “haduh, di sini dingin sekali bbbbrrrrr….”. Ia pun akan tertawa dan meniru cara saya mengucapkan kata “Bbbbrrr”.

Selain bercerita melalu media buku, saya juga suka menceritakan gambar wall sticker yang ada di dinding kamar kami. Wall sticker itu memiliki gambar kereta yang mengangkut sejumlah binatang seperti anjing, kuda nil, jerapah, dan sapi. Kereta itu didorong oleh seorang anak bayi yang sedang ngempeng. Kadang saya menciptakan alur cerita dan dialog-dialog yang relevan dengan gambar tersebut. Anak saya luar biasa menyukai metode ini. Tak jarang dia menarik tangan saya untuk duduk menghadap dinding dan menceritakan mengenai gambar di dinding itu kembali. Mendongeng tanpa media apapun juga tidak masalah buat saya, malah cara ini seringkali efektif untuk menenangkan dia saat dia menangis atau terlalu sibuk berlari kesana-kesini.

saya juga suka bertanya pada anak saya mengenai rutinitasnya sehari-hari saat saya pergi bekerja. Terkadang jawaban yang ia berikan nyambung kadang tidak nyambung atau asal jawab. Tidak masalah, yang penting ia mengerti bahwa komunikasi itu berjalan dua arah dan membutuhkan aksi dan reaksi. So far, I’m so proud of him and what I’ve done. Mungkin ada yang mau share soal kemampuan bicara si kecil?, monggo ditunggu komennya yah!.