Ikutan Kumon!

“Kshatriyan, 8 + 5 berapa?” tanya Papa sambil nyetir kepada anak saya yang sedang duduk di kursi penumpang sebelahnya.

“Hmmm..sebentar-sebentar… (jeda panjang) 13” jawab anak itu akhirnya..

“Kalau 9+7?” tanya si Papa lagi

“ehhhmmmmm…..(sambil berhitung pake jari) 16 ya?”

“iya bener”

“terus pa..tanya lagi” tantang Kshatriyan semangat.

Sejak bulan November lalu, saya mendaftarkan Kshatriyan (5yo) ke Kumon di area Bintaro Sektor 3.  Saya mendaftarkan dia ke Kumon karena belakangan anak ini sedang senang-senangnya melakukan tanya jawab penjumlahan dengan papanya. Kebetulan anak ini memang sudah bisa sedikit-sedikit berhitung dan melakukan penjumlahan. Iseng saya tawarkan dia untuk mencoba trial yang memang sedang diadakan di tempat les tersebut. Ternyata dia antusias. Saya pun langsung menelpon tempat les tersebut untuk mencari-cari informasi lebih lengkap.

Nggak terasa sudah beberapa bulan sekarang berjalan sejak pertama saya mendaftarkan anak saya ikut Kumon. Di sini saya mau sedikit sharing mengenai pengalaman ikut Kumon untuk para orangtua lainnya. Keep reading yaah.

Ternyata, kalau dilihat dari spanduk, trial ini hanya bisa dilakukan jika memang sedang ada program trial di Kumon (correct me if I’m wrong yaa). Sebelum ikut program trial, calon peserta WAJIB hadir untuk ikut tes penempatan untuk mengetahui starting point anak itu. Berikut adalah gambar yang menjelaskan tiap atau tingkatan pada Kumon.

Setelah melakukan janji temu dengan pihak Kumon, saya pun meluncur untuk mengajak Kshatriyan ikut tes. Kshatriyan diajak duduk dan ditemani oleh kakak pengajar untuk melakukan tes-tes seperti kemampun tracing angka, menuliskan bilangan, menyebutkan angka, dan lain-lain. Tidak lama kemudian, kakak pembimbing pun menjelaskan hasil tes. Kshatriyan mulai dari level 4A. Karena sudah lulus tes penempatan, Kshatriyan boleh lanjut ke program trial. Program trial gratis ini boleh diikuti untuk 4 kali pertemuan. Cihuy kan?.

Oiya saya lupa menjelaskan, Kumon itu punya 2 program yang dileskan yaitu Math dan English. Sementara saya coba Matematik dulu, takut anaknya nyerah di tengah-tengah. Metode belajarnya itu nggak kaya di sekolah ya.. Anak boleh datang setiap hari Senin dan Kamis di jam berapapun (selama jam kerja) dan belajar selama 1 jam saja. Belajar di sini murni tok hanya didampingi mengisi lembar-lembar kerja latihan sesuai tingkatannya. Kalau si anak sudah mulai bingung atau mulai putus asa, baru deh kakak pendamping memberikan bantuan.

Lalu ketika peserta Kumon atau si anak selesai (biasanya sih malah less than 1 hour ya), peserta akan diberikan PEER atau lembar kerja di rumah..hahaha ini dia nih tantangannya. Seberapa banyak PEERnya? Sejumlah hari libur sampai ke hari belajar Kumon selanjutnya. Contoh nih..si Anak pergi ke Kumon di hari Kamis dan akan datang les kembali di hari Senin, maka dia akan membawa 3 booklet lembar kerja untuk dikerjakan di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu (Whaat??wiken ada PR juga??).

 Yes.. Inilah kelebihan sekaligus tantangan dalam mengikuti program Kumon. Orangtua harus menyediakan specific time (1 hour or less) untuk yang namanya Kumon Time. Di sini kita harus memotivasi anak untuk memilih sendiri waktu Kumonnya, menyemangati dia ketika Kumon Time tiba, mendampingi dia selama mengerjakan lembar kerja, dan menyemangati dia untuk stay focus sampai 1 booklet selesai dikerjakan. Tidak lupa kita mencatat waktu start dan waktu anak menyelesaikan semua soal-soal di Kumon ini (1 booklet=10 halaman). Untuk awal-awal, jika anak masih susah disuruh fokus, booklet ini boleh di split 5 halaman dulu, baru lanjut 5 halaman lagi.

Jangan tanya susahnya kaya apa deh nyuruh anak yang gak bisa diem ini untuk fokus ngerjain lembar kerja. Duileh..dari mulai bikin theme song “Kumon Time” pake background lagu iklan Tiket.Com sambil joged2 sampai saya fotocopy tuh lembar kerja dan ngajak dia balapan cepet-cepetan ngerjain supaya dia semangat kalau ada yang nemanin. Ada kalanya dia ngeluh-ngeluh,bernegosiasi, ngerjain lambat-lambat, ngerjain tapi asal-asalan, tapi lucunya ada kalanya juga nih anak malah bilang gini “Kumon Time yuk”.

Sekarang setelah hampir 3 bulan Kshatriyan mengikuti program Kumon ini, satrian sudah naik level ke level 3A. Menurut tutornya, jika Kshatriyan terus semangat dan mau mengikuti Kumon terus tanpa cuti, dia akan bisa menyelesaikan soal yang melebihi tingkat kesulitan di level sekolahnya nanti saat dia masuk SD.

I know, mungkin ada beberapa orang yang mungkin merasa kalau pemberian PR ini agak too much untuk anak seusia anak saya. Tapi menurut saya itu kembali ke kita sebagai orang tua, apa kita sangat terfokus ke hasil kah? Atau yang penting anak saya bisa ‘enjoy the process?’. Bagi saya menanamkan kultur cinta belajar itu lebih penting daripada ngoyo sama hasil. Anak harus menikmati waktu belajar tersebut.