Tantrum, Apa dan Bagaimana?

shutterstock_82399513

Belakangan Kshatriyan mulai menunjukkan perilaku tantrum. Suatu hari saya bilang ke dia “ganti baju yuk, Nak soalnya baju kamu basah”. Seketika dia langsung menjerit dan berkata “Enggggaaaaak..” lalu menangis sekencang-kencangnya. Hal yang sama juga terjadi saat waktu tidur malam, saat kita bilang “Kshatriyan kita bobo yuk..sudah jam 9”. Bahkan dia menolak sekedar bermain di kamar karena dia sudah bisa mengasosiasikan bahwa ke kamar berarti bobo. Terlebih jika saya mulai mematikan lampu kamar, Ia akan langsung menarik tangan saya dan bilang “Maiiiiiin”. Dalam pengamatan saya, Kshatriyan mulai menolak segala macam rutinitas harian yang sudah dipolakan sejak bayi hingga usia 1 tahun 8 bulan. Dia hanya mau bermain dan bermain.

Pernah mengalami hal seperti ini mom?, pasti banyak orangtua yang mengalami hal yang serupa. Prinsip saya dan suami adalah we can not force our kids to behave like we want to, instead of forcing them we need to study them all the time. Penting bagi orangtua untuk mempelajari tingkah laku anaknya dan mencari penyebab perilaku ini bisa muncul dan bagaimana mengatasinya.

Tulisan ini saya buat agak panjang, karena saya berusaha mengaitkan antara teori yang saya dapat dari berbagai sumber dengan pengalaman saya sendiri. Hopefully tidak membosankan untuk dibaca ya…

Mari kita mulai dengan definisi tantrum. Tantrum adalah serangkaian perilaku yang dimulai dari mengeluh hingga menangis, mengamuk, berteriak dan melakukan perilaku agresif lainnya. Hal ini biasa terjadi di usia 18 bulan hingga 3 tahun. Perilaku ini seringkali terjadi akibat kesulitan anak menyampaikan keinginannya dalam bentuk komunikasi verbal ataupun isyarat tubuh. Perilau ini biasanya semakin berkurang atau hilang seiring dengan berkembangnya kemampuan bicara anak.

Berdasarkan pengamatan saya, ada pertanyaan besar yang harus kita jawab sebelum terburu-buru memarahi anak. Sudah cukup kah waktu dan perhatian yang kita berikan kepada mereka?, apakah hak bermain mereka terpenuhi?. Apakah kita benar-benar mendampingi mereka saat bermain atau hanya sekedar duduk lantas membiarkan mereka bermain sendirian, atau malah asik main smart phone atau gadget lainnya saat mereka bermain?. Saya belajar bahwa bermain itu harus sepenuh hati dan harus memposisikan diri kita sebagai partner bermain yang menyenangkan. Pasti kita sering kesal kalau teman atau partner bicara kita tidak antusias ketika kita membicarakan hal-hal yang kita anggap menarik, kan?. Nah, anak-anak pun bisa merasakan hal tersebut. Seringkali anak saya menarik tangan saya untuk duduk dan ikut bermain bersama dia. Dia juga seringkali menyodorkan mainannya kepada saya agar saya ikut bermain. Intinya ketika kita ada di rumah, kita benar-benar harus menyediakan waktu dan atensi kita sepenuhnya untuk mereka.

Saya sendiri tumbuh dengan didikan yang keras. Namun ketika saya memiliki anak sendiri, saya merasa pola didik yang diterapkan orang tua saya tidak bisa diterapkan untuk anak saya. Saya pernah membiarkan dia menangis karena dia menolak tidur saat saya sudah benar-benar lelah atau kurang fit. Ekspektasi saya adalah dia akan merasa lelah menangis dan menyerah lalu pergi tidur. Ternyata cara ini tidak berhasil untuk membuat dia tidur. Ketika anak saya terbangun jam 1 dini hari dan mengajak saya bermain. Saya memutuskan untuk mengajaknya bermain sebentar (namun memilih permainan yang tidak menguras energi) seperti menyusun puzzle, membaca buku, atau pretend play atau memutarkan film lambat/musik klasik yang bisa membuat anak merasa mengantuk. Tidak lama kemudian, anak saya kembali mengantuk dan mengajak saya kembali tidur.

Faktor lain yang berkontribusi terhadap timbulnya tantrum adalah ketidaknyamanan. Apakah anak merasa mengantuk, lapar, kegerahan atau kedinginan?. Ketika anak tidak bisa tidur dan rewel, saya berusaha menggantikan bajunya agar lebih nyaman, memakaikan bedak di punggungnya karena dia sangat mudah berkeringat di malam hari dan menawarkan dia makan atau minum jika dia menginginkan. Ketika dia menolak masuk ke kamar karena dia sudah punya konsep bahwa kamar sama dengan waktunya tidur, maka saya mengajaknya bermain di kamar tamu dan membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur dengan sendirinya. Pernah juga saya menyusuinya di ruang tamu hingga tertidur waktu ia menolak masuk ke kamar tidur keluarga karena takut disuruh tidur dan tidak bisa bermain lagi.

Pernah juga anak saya mengamuk ketika ditinggal kerja. Dalam case ini, saya mengupayakan mendisiplinkan diri saya sendiri sebelum mendisiplinkan anak saya. Saya berusaha bangun pagi dan mempersiapkan segala kebutuhan ke kantor sebelum anak saya terbangun sehingga sisa waktu dapat saya gunakan untuk mengajak anak saya main sebentar sebelum pergi ke kantor. Biasanya anak saya lebih mau ditinggal jika saya meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengannya sebelum saya berangkat. Saya juga tidak pernah pergi diam-diam dan selalu berpamitan sebelum pergi ke kantor. Saya selalu bilang padanya bahwa saya akan pulang dan akan mengajaknya bemain a,b,c,d (permainan favoritnya) saat saya pulang nanti.

Rutinitas di luar rumah yang berbeda dengan rutinitas sehari-hari juga dapat menyebabkan tantrum, contohnya ketika saya mengajak anak saya ke luar kota dengan menggunakan mobil pribadi, dia sempat mengamuk minta berhenti dan keluar dari mobil karena kebosanan. Saat kami menghentikan mobil dan singgah sebentar, Ia langsung berlari dan tersenyum girang. Usahakan anak mendapatkan cukup tidur dan makan sebelum kita mengajaknya berpergian. Tempat yang terlalu ramai dan tidak memungkinkan anak-anak untuk berlari-lari atau bermain juga bisa membuat mereka bosan dan mengamuk. Untuk hal ini, saya lebih menyukai mengajak anak saya ke taman daripada ke pusat perbelanjaan. Karena taman merupakan area yang aman untuk membiarkan dia berlari sepuasnya tanpa takut anak akan naik turun escalator atau menangis minta dibelikan mainan. Saya juga berusaha menghindari toko mainan jika saya tidak berencana membelikan dia mainan. Kalau sudah terlanjur tantrum karena minta dibelikan mainan, saya biasanya menggendong dia menjauh dari toko mainan tersebut dan berusaha mengalihkan perhatiannya ke hal lain supaya dia lupa dengan mainan yang dia inginkan. Cara ini terkadang agak sulit karena semakin besar tubuh anak, semakin kuat ia untuk memberontak ketika kita akan memeluk atau menggendongnya saat tantrum.

Jika saya berencana mencari kebutuhan pribadi saya atau suami dalam jumlah banyak dan menghabiskan waktu untuk berkeliling mencari barang yang dimaksud, saya selalu mengajak si mbak, mertua, atau adik ipar untuk membantu saya menjaga anak saya sekaligus mengajaknya bermain agar dia tidak merasa bosan. Karena tidak fair jika kita memaksa anak ikut dalam rute belanja kita sedangkan dia ternyata merasa tidak fun dengan kegiatan tersebut. Ketika hendak makan di luar, saya selalu memilih restoran yang memiliki menu yang bisa dinikmati anak saya supaya dia juga bisa enjoy.

Berikut tips mengenaii tantrum yang saya ambil dari berbagai sumber:

Mencegah Tantrum:

  1. Berikan gambaran atau penjelasan kepada anak mengenai kegiatan yang akan dilakukan di luar dan ekspektasi kita atas perilakunya, sehingga anak bisa mempersiapkan diri. contohnya “kita akan berpergian di dalam mobil dalam waktu yang cukup lama, kamu boleh membawa mainan kesukaanmu”, atau “kita tidak akan membeli mainan hari ini, tapi minggu depan mama akan mengajakmu membeli mainan dan kamu boleh memilih mainanmu sendiri” dan lain sebagainya.
  2. Buatlah wishlist mainan atau benda yang diinginkan anak dan biasakan anak mematuhi wishlist yang dibuatnya sendiri. Jika anak anda menginginkan benda baru, ingatkan mereka memasukkannya ke dalam wishlist dan rencanakan untuk membelinya di lain waktu.
  3. Untuk menghindari tantrum di lain hari, persiapkan rencana berpergian sematang mungkin dan hindari hal-hal yang diprediksi akan membuat anak anda kembali tantrum
  4. Minta bantuan saudara, teman, mertua dan lain-lain saat anda butuh waktu sebentar untuk diri anda sendiri dan tidak bisa diganggu
  5. Catat situasi atau hal-hal yang membuat anak anda mengamuk agar tidak terulang di kemudian hari
  6. Libatkan anak anda untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan, contoh “Kamu mau makan telur atau sup jagung?” dan lain sebagainya
  7. Disiplin dan Terpola. Akan lebih mudah bagi anak untuk melakukan kegiatan yang sudah terjadwal atau terpola setiap harinya. Orangtua juga perlu disiplin mengatur waktunya sehingga ketika anak anda membutuhkan perhatian, anda bisa 100% mendampinginya tanpa teralihkan dengan kegiatan anda sendiri.
  8. Ketahui batasan anak anda. Jangan memaksakan mengajak anak berpergian saat dia kurang sehat atau mengantuk
  9. Cerdik dan kreatif. Jika anak anda menolak mandi, bawa mainannya untuk dicuci bersama di kamar mandi. Anda bisa perlahan-lahan memandikannya saat dia sudah teralihkan.
  10. Selektif dalam menggunakan kata “Tidak” atau “Jangan”.

 

Saat Tantrum:

  1. Ignoring/mengacuhkan. Mengacuhkan disini bukan berarti mengacuhkan keinginan mereka yang masih bisa    kita penuhi (contoh lapar, bosan atau tidak nyaman), namun mengacuhkan keinginan mereka yang sangat tidak mungkin direalisasikan (contoh mainan yang sangat mahal atau tidak diperlukan). Mengacuhkan berarti tidak berusaha memberikan penjelasan logis saat mereka sedang mengamuk, karena pada dasarnya saat anak mengamuk mereka sedang tidak ingin mendengarkan nasihat atau tidak menggunakan akal sehat. Menasihati atau memberi penjelasan panjang lebar tidak tepat dilakukan saat ini.
  1. Memberikan mereka ruang/waktu untuk meluapkan kemarahan. Katakan pada mereka “kamu boleh marah dan menenangkan diri dulu sekarang nanti kita akan bicarakan lagi saat kamu sudah tenang”. Seperti halnya orang dewasa, anak perlu belajar mengendalikan dan menguasai emosinya sendiri. Tetap lakukan pengawasan agar anak tidak menyakiti diri sendiri atau melakukan hal yang berbahaya selama proses berlangsung. Bawa anak ke tempat yang lebih sepi saat ia butuh waktu untuk mengamuk.
  2. Tidak berteriak atau memukul saat anak sedang mengamuk, ingat anak sedang tidak menggunakan akal sehatnya sehingga cara ini tidak akan berhasil.
  3. Memeluk
  4. Mengalihkan perhatian, bawa ia pergi ke tempat lain dan cari hal yang bisa mengalihkan perhatiannya
  5. Berbisik hingga ia diam dan berusaha mendengarkan apa yang kita katakan
  6. Tenangkan diri anak sendiri, lakukan hal-hal yang bisa menghilangkan kemarahan anda saat melihat anak anda mengamuk di tempat umum
  7. Tunjukan empati saat anak mengamuk dengan mengatakan hal yang sangat singkat namun tegas “Mama tahu kamu marah, namun kalau kamu terus menangis sebaiknya kita segera pulang”
  8. Tidak mengiming-imingi anak dengan hadiah untuk menghentikan tantrum
  9. Coba cara unik, lucu dan kreatif. Contoh saat anak anda tidak mau ganti diaper, pakai diaper di kepala anda, atau gunakan buah pisang untuk berpura-pura menelpon seseorang agar dia mau makan
  10. Konsisten dengan peraturan yang diterapkan.

Setelah Tantrum reda:

  1. Berikan penjelasan saat anak sudah tenang dan berhasil mengelola emosinya, katakan pada mereka bahwa mereka boleh marah namun tidak boleh menyakiti diri sendiri dan orang lain.
  2. Berikan pujian di lain waktu saat anak berhasil berlaku baik atau berhasil mengelola emosinya. Katakan pada mereka betapa bahagianya kita sebagai orangtua melihatnya bisa bersikap baik dan tidak mengamuk di tempat umum.

Ada yang punya cara lain/unik ketika anak sedang mengamuk, mommies?. Kita bahas di sini yuk.

Sumber:

http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/tantrums.html

http://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/tantrum/tame-your-kids-tantrums/

https://www.empoweringparents.com/article/dealing-with-child-temper-tantrums-from-toddler-to-pre-teen/

http://www.whattoexpect.com/toddler/temper-tantrums